Bagaimana keadaan Nabi dengan keluargannya?
Dimedan laga seperi yang tidak kenal kemesraan. Tetapi ketika ia dengan istrinya, seperti tidak kenal dengan medan peperangan.Wahai para suami ketika istrimu sedangan berada disampingmu, tidak perlu kau memanjangan shalat sunnatmu. Sunnah mu adalah bagaimana cara membahagian istri- istrimu.
Ketika Nabi sedang berada dirumah. Bemesraan. Indah. Benar-benar seorang suami. Sampai tidak terlihat lagi bahwa Beliau adalah sorang panglima perang handal.
Bahkan ketika diizinkan oleh Aisyah beribadah. Berapa kali Rasulullah melongokakn kepalanya kepada Siti Aisyah. Sering hingga mungkin tidak terhitung.
Pernah pada suatu ketika. Sangking manjanya beliau kepada Aisyah. Sedang i’tikaf di masjid. Kepala beliau dikeluarkan dari jendela. Sehingga rambunyapun terlihat, kemudian Siti Aisyah menyisirinya dari luar. Sempatnya seperti itu. Karena Nabi Muhammad tau bahwa Aisyah sangat ingin memegang kepala Rasulullah.
Bahkan Sering Nabi Muhammad bangun dimalam hari. Ia menegoki wajah Aisyah. Tahajudnya Rasulullah Saw. Tahajud kemesraan. Selagi istrinya tidak senang ditinggalkan. Rasulullah pernah shalat dan di depannya adalah Siti Aisyhah. Karena kamar Beliau adalah kamar sempit. Sering ketika Rasul sujud, Siti Aisyah arus melipatkan kakinya. Jikalau berdiri kembali menghadang melintang dihadapannya lagi didepan Rasulullah. Ketika Nabi sudah banyak shalat dibangunkannya Siti Aisyah untuk dapat shalat bersama.
Terkadang Rasul memercikan terhadap wajah Aisyah dan berkata “Bangun- bangun –bangun....” karena apa siti Aisyah belum bangun? Pasalnya Ia merasakan kenyamana ketika dekat dengan suamainya. Masyaallah. Ketika Itu Aisyah merasa senang.
Ketika dirumah waktu Rasulullah adalah maksimal untuk istrinya. Dan kadang memberikan kejutan-kejutan.
Pernah suatu hari ketika Aisyah sedang minum. Rasul meminta air yang sedang diminum oleh Siti Aisyah. Bukan karena tidak adalagi air minum dirumah itu. Ada sesuatu yang diinginkan oleh Rasulullah. Setah diberi oleh siti Aisyah gelas itu. Kemudian Rasulullah memutar gelas dengan bibirnya dan mencari bekas minum istrinya. Meminumnya dan ditempelkan bibir Rasulullah. Ucap Siti Aisyah “Aku tau ia mengambil hatiku.” Masyaalah.
Ini adalah salah satu keromantisan dari Rasulullah.
Bahkan Rasulullah sesekali sampai mengerjakan pekerjaan istrinya. Ia mengambil sampah dirumahnya. Disitulah terdapat suatu makna. Makna yang menyuburkan cinta adalah perhatian. Rasulullah sangat memperhatikan Aisyah. Begitupula Aisyah yang memperhatikan Nabi. Sampai hal kemessraan.
Ditanya Siti Aisyah tentang apa yang dilakukan Rasulullah ketika pertama kali memasuki kamar istrinya. Bekumur dan Mencelupkan tangannya kedalam baskom kemudian rambunya dibasahi. Maknanya adalah mebersihkan diri dari sisa kotoran dan agar wajahnya nampak lebih segar ketika bertemu dengan istrinya. Karena umumnya ketika pasangan sedangan berada dikamar paling tidak ia akan mencium pasangannya. Nabi Muhammad tidak ingin mencium istrinya dalam keadaan mulutnya yang belum ia bersihkan. Padahal Nabi Muhammad adalah orang yang tidak ada kotornya. Maka perhatikanlah perlunya Nabi Muhammad berlaku demikian.
Ketika Rasul berada di medan perang. Ia menunggu waktu kepulangan beliau. Setiap ada kuda-kuda yang meringkik di pinggir kamar Aisyah. Aisyah berdiri menatap jendela. Mengira bahwa itu adalah kuda Rasulullah. Lihatlah perhatian yang Aisyah datangkan. Karna sekali lagi bawa perhatian adalah yang menyuburkan kasih sayang.

EmoticonEmoticon