Selasa, 10 April 2018

Karyakan Dakwahmu!

Ketika menapaktilasi riwayat hidup yang belum seberapa jauh, terhitung masih "belia" dengan ukuran orang yang ada di hadapannya. Perkataan itu masih saja terngiang walaupun sudah jauh tertinggal, satu kalimat saja, "kapan kau akan berkarya?". Memperhatikan grafik yang tengah dijelaskan dalam suatu kelas perkuliahan, pikirannya kembali memutar bola cakram mesin waktu, hingga mesin tersebut membawanya kembali pada kenyataan bahwa ia sedang duduk mengikuti presentasi dosen. Ia mengutuk dalam hati, " wahai diri, apakah layak kau ada di dalam kehidupan ini? Untuk apa kau hidup? apa bukti kau hidup? mengapa kau masih stagnan di zona nyaman, ongkang-ongkang kaki bersandar dengan nyamannya pada pundak kedua orang tua?". Terlampau sering ia berjanji pada diri untuk kemudian dilanggarnya, ia berultimatum pada diri untuk kemudian dikhianatinya, sakit memang. Ia benci pada dirinya kala itu, benci melihat dirinya yang mengikuti bayangan, ia benci melihat betapa "sampahnya" di kehidupan. seakan apa yang menjadi sumbangsihnya pada kehidupan hanyalah fatamorgana.

***
Kawan, apa yang kau rasakan ketika membaca cuplikan diatas? Apakah kau melihat seorang anak manusia yang setres dengan keadaan dirinya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia yang "gegana" dengan kehidupannya? Atau kau melihat seorang anak manusia yang hendak bertransformasi dari ketidak berdayaannya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia pemarah yang tak mensyukuri anugerah Tuhannya?.
Banyak pernyataan yang akan timbul dari cuplikan di atas. Stereotip tidak dapat dihindari ketika mendapati sebuah peristiwa di hadapan kita. Namun kawan, ini bukan saatnya men-judges siapapun, judgement kita tidak akan berpengaruh terhadapnya.
Seperti yang telah diketahui, manusia merupakan makhluk tiga dimensi. Dikatakan demikian karena begitulah keadaannya, ada tiga unsur yang ada dalam tubuh manusia. Kendati unsur-unsur tersebut ada di dalam tubuh manusia, ketiganya tidak menjamin akan memanusiakan manusia. Unsur tersebut adalah ruh, jasad, dan nafs.
Ruh merupakan esensi dari kehidupan manusia, ia merupakan unsur yang paling halus dan bersifat suci, ia juga cenderung pada hal-hal yang fitri dan ilahi, unsur ini adalah unsur yang kekal dalam perjalanan hidup manusia. Masih berbicara tentang ruh, ruh dibedakan menjadi dua, yaitu ruh munazzalah dan ruh al-gharizah. Ruh munazzalah adalah ruh yang masih "utuh" dalam artian ruh yang masih berada di alam ajali, sedangkan ruh al-gharizah adalah ruh yang telah "terkontaminasi" kesuciannya karena telah masuk pada jasad manusia, dan dikenal pula sebagai nafs.
Jasad merupakan wujud fisik--anatomi manusia--. Wujud anatomi ini cenderung pada hal-hal yang bersifat biologis serta merupakan eksistensi dan "wadah" unsur kehidupan walaupun keberadaannya tidak immortal.
Nafs seperti yang telah disinggung merupakan substansi psiko-fisik gabungan antara ruh dan jasad. Karena keberadaannya adalah gabungan, nafs ini memiliki kecenderungan yang juga gabungan antara ruh dan jasad. Yang paling digaris bawahi dalam nafs adalah aktualisasinya yang membentuk kepribadian.
Oleh karena nafs yang berperan dalam aktualisasi diri, perlu kiranya mengetahui bahwa dalam nafslah terdapat tiga pautan inti, qalbu, akal, dan nafsu yang akan diminta pertanggung jawaban. Peran dan posisi qalbu, akal, dan nafsu harus senantiasa berada dalam ketepatan, kebenaran, dan keseimbangan. Tidak dibenarkan adanya dominasi yang akan menjadikan eksistensi diri berada dalam ketimpangan.
Lantas, apa kaitannya ilustrasi di atas dengan pemaparan ini? Mungkin tidak berkaitan, akan tetapi bersinggungan. Ketika pautan inti tersebut harus seimbang, perlu adanya usaha untuk menyeimbangankannya. Dalam satu hal yang disebut "usaha", barang tentu akan menemui resiko atas keputusan yang diambil, ujian saat berpendirian, hingga gangguan dan ancaman eksternal.
Menyadari keterbatasan manusia dalam mengendalikan diri dan menghindari kesalahan, manusia sangat membutuhkan bantuan untuk tetap berada dalam kesadaran dan fitrahnya. Demi mencapai itu, Allah menciptakan mekanisme hidup yang telah paripurna dengan sempurnanya Islam.  Jalan dakwah yang telah ditempuh para massager-Nya adalah solusi untuk permasalahan tersebut.
Seorang manusia tidak bisa jemawa menunjuk dirinya "mampu" mempertimbangkan baik dan buruk dengan potensi akal yang dimilikinya karena akal memiliki sifat yang fluktruatif. Akal terkadang berpihak pada kesadaran dan bisa jadi ia terperosok jauh pada kejahatan. Kemurnian dari hakikat hati juga tidak selamanya dapat memancarkan sinar petunjuk bagi pemiliknya, ia akan bersinar manakala ia terpelihara, ada pun ketika ia terabaikan maka kotorlah ia dan tak lagi dapat menyinari kehidupan pemiliknya. Jangan ditanya bagaimana posisi nafsu, memang benar dengan nafsu terpelihara kelangsungan hidup manusia, namun ketika nafsu tidak lagi dikedalikan bahkan sebaliknya nafsulah yang mengendalikan sehingga dipertuhankan oleh tuannya, tak akan terelakan bahwa ia tengah membangun kehancuran bagi dirinya.
Oleh karenanyalah dakwah dibutuhkan guna memosisikan potensi tersebut tetap berada dan cenderung pada kebenaran. Dakwah akan menjadi penuntun akal manusia dalam mencari dan menjalankan kebenaran. Dakwah pun akan senantiasa menjadi nutrisi bagi hati--qalbu--sehingga terpeliharalah ia lantas konsisten menyinari kehidupan pemiliknya. Dakwah pulalah yang akan menjadi alarm peringatan bagi nafsu agar ia tetap terkendali dalam kebenaran.
Jika diibaratkan, fitah manusia adalah jalan lurus yang akan mengantarkannya pada "tujuan" akhir perjalanan, maka akan ada kalanya manusia itu berbelok arah, entah karena "bosan" melihat sisi kanan kiri yang terlihat menyenangkan, atau mungkin karena ada yang "membelokan". Ketika keluar dari lintasan jalan yang lurus, ada beberapa hipotesis. Ada yang keluar jalur lantas kembali meniti jalan yang lurus itu, tak dapat dipungkiri juga ia akan terus berjalan diatas jalan belok tadi hingga jauh terus menyusurinya lantas enggan untuk " kembali", atau ia hendak kembali tetapi "lupa" bagaimana caranya, bisa jadi ia ingin "kembali" tapi ia terlampau gengsi dan sakit hati, atau mungkin "belum" saatnya Sang Pemilik hidayah merestuinya untuk kembali, serta banyak lagi kemungkinan lainnya.
Seorang manusia tidak bisa mengubah seorang individu kembali ke dalam fitri, tetapi ia bisa membantunya agar ia kembali menemukan jati diri. Seorang anak manusia juga tidak bisa menjadikan individu tetap dalam ridha Illahi, tapi ia bisa menjaganya dalam tautan silaturahim. Manusia tidak bisa menjamin dirinya senantiasa dalam kebenaran. Jelas kiranya bahwa manusia pada dasarnya butuh akan dakwah sebagai alarm kehidupan yang selalu mengingatkannya untuk kembali, seruan Illahi melalui pelantara makhluk-Nya, serta bentuk kepedulian sejati atas keselamatan sesama.
Dakwah juga dapat diwujudkan sebagai karya yang dimaksud oleh ilustrasi di atas, karena dakwah adalah seni menawan dalam menyampaikan pesan nan suci. Bagaimana tidak, "profit" dakwah tidak hanya kepuasaan saat terwujudnya masterpiece, keuntungan saat mendapat materi dunia, namun lebih besar dari pada itu, yakni "profit" akhirat sebagai bekal yang mengabadi.
Selain menjalankan perintah Allah untuk saling manasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar tidak tergolong pada kelompok manusia yang merugi--QS. al-'Asr--dan ikut andil dalam persebaran Islam di muka bumi, dakwah adalah bentuk nyata dari kasih sayang sesama manusia yang dapat menghindarkannya dari sikap individualis. Adapun "profit" dari aktivitas dakwah diantaranya sebagai berikut:
1. Perwujudan Orang Beriman
Sikap hidup orang beriman adalah memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran (QS. at-Taubah [9]: 71). Berbeda halnya dengan orang munafik yang bersikap sebaliknya(QS. at-Taubah [9]: 67). Tidak pelak lagi bahwa dakwah adalah aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar sebagai wujud dari orang yang beriman.
2. Mewujudkan Tanggung Jawab Bersama
Berdakwah dalam kehidupan bermasyarakat diibaratkan seperti sekelompok orang yang menghuni sebuah kapal layar. Ada yang mendapatkan tempat di atas dan ada juga yang di bawah. Bila orang yang ada di bawah hendak mengambil air, ia harus naik dan melewati setiap orang yang dilaluinya di setiap tingkat kapal. Terkadang orang yang di bawah berpikir, "seandainya aku lubagi saja kapal ini untuk mendapatkan air, maka aku tidak akan mengganggu orang yang ada di atas". Bagaimana jika orang tersebut melubangi kapalnya? Jangankan akan sampai pada tujuan, sebelum itu terjadi mereka akan tenggelam. Apabila mereka mencegahnya, maka mereka semua akan selamat dan terhindar dari petaka. Begitupun berdakwah di masyarakat, ketika orang-orang saling mengingatkan dan menyeru pada kebaikan serta mencegah pada kemunkaran, mereka akan selamat dari persinggahan menuju tempat tujuan. Sikap tenggang rasa antara penghuni atas dan bawah kapal juga akan tercipta dengan terciptanya kesadaran bersama untuk saling menjaga.
3. Bekal Menghadap Allah SWT.
Tentu kita mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah jembatan yang membentang pada satu titik akhir, yaitu kematian sebagai gerbang kehidupan yang kekal. Hidup di dunia hanyalah sementara, namun banyak umat manusia menjadi budak dunia karena keindahannya yang memperdaya (QS. al-Hadid [57]: 20), namun ada juga mereka yang menjadikan dunia dalam " kendalinya" dengan menyikapi dunia "seperlunya".
Hidup di zaman yang " mempertontonkan" kemaksiatan, "mempertuan" keinginan, peniadaan kebaikan, dan lain halnya, dakwah dapat dijadikan sebagai "alasan" saat menghadap Sang Hakim keadilan. Ketika tubuh ringkih terhuyung ketakutan di depan pengadilan-Nya, saat itulah pengharapan terbesar untuk diselamatkan dan hanya keridhaan-Nya yang kita perlukan, pertanyaannya apa yang kita miliki untuk selamat dari murka-Nya? dakwah adalah salah satu alasan untuk menyelamatkan diri. Ketika zama semakin tidak karuan, tetaplah gaungkan dakwah. Stereotip "mengepa kau menasihati kaum yang Allah akan membinasakan dan mengadzab mereka karena kemaksiatannya dengan adzab yang amat keras?" jawablah dengan tegas, "itu kami lakukan agar kami memiliki alasan pelepas tanggung jawab kepada Allah serta agar mereka bertakwa", sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam QS. al-'Araf [7]: 164.
4. Berpeluang Menjadi Orang yang Beruntung dan Meraih Kesempatan untuk Menjadi Umat Terbaik
Ayat ini begitu familiar di telinga, QS. Ali-Imran [3]: 104. Menyerukan kebajikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar adalah aktivitas dakwah. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Abu Ja'far al-Baqir yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih setelah membaca ayat, " Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan", Rasulullah bersabda, "yang dimaksud dengan kebaikan itu adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku." Jelaslah kiranya aktivitas dakwah juga merupakan aktivitas menyerukan Firman Allah dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. baik berupa perintah, larangan, maupun pembiaran, dengan hukum kedudukannya.
Masih dalam QS. Ali-Imran [3], pada ayat ke 110 Allah berfirman (yang artinya), "kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..."
Lagi-lagi dan lagi, Allah memberikan peluang yang sangat luar biasa (menjadi sebaik-baiknya umat) dengan aktivitas dakwah.
Masih rela gak termasuk aktivis dakwah? apa lagi pertimbangan tidak menjadikan dakwah sebagai karyamu? abil kesempatan emasmu menjadi aktivis dakwah, segera karyakan dakwahmu.
#adet
#karyakan_dakwahmu
#dakwahmu_karyamu
#menulis_dakwah
#to_be_continue

jika ada yang bertanya kaukah yang pandai menulis itu? jawabannya bukan aku. tetapi jika ada yang bertanya kaukah yang akan belajar menulis itu? jawabannya itulah aku,,


EmoticonEmoticon