Ketika menapaktilasi riwayat hidup yang belum seberapa
jauh, terhitung masih "belia" dengan ukuran orang yang ada di
hadapannya. Perkataan itu masih saja terngiang walaupun sudah jauh
tertinggal, satu kalimat saja, "kapan kau akan berkarya?". Memperhatikan
grafik yang tengah dijelaskan dalam suatu kelas perkuliahan, pikirannya
kembali memutar bola cakram mesin waktu, hingga mesin tersebut
membawanya kembali pada kenyataan bahwa ia sedang duduk mengikuti
presentasi dosen. Ia mengutuk dalam hati, " wahai diri, apakah layak kau
ada di dalam kehidupan ini? Untuk apa kau hidup? apa bukti kau hidup?
mengapa kau masih stagnan di zona nyaman, ongkang-ongkang kaki bersandar
dengan nyamannya pada pundak kedua orang tua?". Terlampau sering ia
berjanji pada diri untuk kemudian dilanggarnya, ia berultimatum pada
diri untuk kemudian dikhianatinya, sakit memang. Ia benci pada dirinya
kala itu, benci melihat dirinya yang mengikuti bayangan, ia benci
melihat betapa "sampahnya" di kehidupan. seakan apa yang menjadi
sumbangsihnya pada kehidupan hanyalah fatamorgana.
***
Kawan,
apa yang kau rasakan ketika membaca cuplikan diatas? Apakah kau melihat
seorang anak manusia yang setres dengan keadaan dirinya? Ataukah kau
melihatnya sebagai anak manusia yang "gegana" dengan kehidupannya? Atau
kau melihat seorang anak manusia yang hendak bertransformasi dari
ketidak berdayaannya? Ataukah kau melihatnya sebagai anak manusia
pemarah yang tak mensyukuri anugerah Tuhannya?.
Banyak
pernyataan yang akan timbul dari cuplikan di atas. Stereotip tidak dapat
dihindari ketika mendapati sebuah peristiwa di hadapan kita. Namun
kawan, ini bukan saatnya men-judges siapapun, judgement kita tidak akan
berpengaruh terhadapnya.
Seperti yang telah diketahui,
manusia merupakan makhluk tiga dimensi. Dikatakan demikian karena
begitulah keadaannya, ada tiga unsur yang ada dalam tubuh manusia.
Kendati unsur-unsur tersebut ada di dalam tubuh manusia, ketiganya tidak
menjamin akan memanusiakan manusia. Unsur tersebut adalah ruh, jasad,
dan nafs.
Ruh merupakan esensi dari kehidupan manusia,
ia merupakan unsur yang paling halus dan bersifat suci, ia juga
cenderung pada hal-hal yang fitri dan ilahi, unsur ini adalah unsur yang
kekal dalam perjalanan hidup manusia. Masih berbicara tentang ruh, ruh
dibedakan menjadi dua, yaitu ruh munazzalah dan ruh al-gharizah. Ruh
munazzalah adalah ruh yang masih "utuh" dalam artian ruh yang masih
berada di alam ajali, sedangkan ruh al-gharizah adalah ruh yang telah
"terkontaminasi" kesuciannya karena telah masuk pada jasad manusia, dan
dikenal pula sebagai nafs.
Jasad merupakan wujud
fisik--anatomi manusia--. Wujud anatomi ini cenderung pada hal-hal yang
bersifat biologis serta merupakan eksistensi dan "wadah" unsur kehidupan
walaupun keberadaannya tidak immortal.
Nafs seperti
yang telah disinggung merupakan substansi psiko-fisik gabungan antara
ruh dan jasad. Karena keberadaannya adalah gabungan, nafs ini memiliki
kecenderungan yang juga gabungan antara ruh dan jasad. Yang paling
digaris bawahi dalam nafs adalah aktualisasinya yang membentuk
kepribadian.
Oleh karena nafs yang berperan dalam
aktualisasi diri, perlu kiranya mengetahui bahwa dalam nafslah terdapat
tiga pautan inti, qalbu, akal, dan nafsu yang akan diminta pertanggung
jawaban. Peran dan posisi qalbu, akal, dan nafsu harus senantiasa berada
dalam ketepatan, kebenaran, dan keseimbangan. Tidak dibenarkan adanya
dominasi yang akan menjadikan eksistensi diri berada dalam ketimpangan.
Lantas,
apa kaitannya ilustrasi di atas dengan pemaparan ini? Mungkin tidak
berkaitan, akan tetapi bersinggungan. Ketika pautan inti tersebut harus
seimbang, perlu adanya usaha untuk menyeimbangankannya. Dalam satu hal
yang disebut "usaha", barang tentu akan menemui resiko atas keputusan
yang diambil, ujian saat berpendirian, hingga gangguan dan ancaman
eksternal.
Menyadari keterbatasan manusia dalam
mengendalikan diri dan menghindari kesalahan, manusia sangat membutuhkan
bantuan untuk tetap berada dalam kesadaran dan fitrahnya. Demi mencapai
itu, Allah menciptakan mekanisme hidup yang telah paripurna dengan
sempurnanya Islam. Jalan dakwah yang telah ditempuh para massager-Nya
adalah solusi untuk permasalahan tersebut.
Seorang
manusia tidak bisa jemawa menunjuk dirinya "mampu" mempertimbangkan baik
dan buruk dengan potensi akal yang dimilikinya karena akal memiliki
sifat yang fluktruatif. Akal terkadang berpihak pada kesadaran dan bisa
jadi ia terperosok jauh pada kejahatan. Kemurnian dari hakikat hati juga
tidak selamanya dapat memancarkan sinar petunjuk bagi pemiliknya, ia
akan bersinar manakala ia terpelihara, ada pun ketika ia terabaikan maka
kotorlah ia dan tak lagi dapat menyinari kehidupan pemiliknya. Jangan
ditanya bagaimana posisi nafsu, memang benar dengan nafsu terpelihara
kelangsungan hidup manusia, namun ketika nafsu tidak lagi dikedalikan
bahkan sebaliknya nafsulah yang mengendalikan sehingga dipertuhankan
oleh tuannya, tak akan terelakan bahwa ia tengah membangun kehancuran
bagi dirinya.
Oleh karenanyalah dakwah dibutuhkan guna
memosisikan potensi tersebut tetap berada dan cenderung pada kebenaran.
Dakwah akan menjadi penuntun akal manusia dalam mencari dan menjalankan
kebenaran. Dakwah pun akan senantiasa menjadi nutrisi bagi
hati--qalbu--sehingga terpeliharalah ia lantas konsisten menyinari
kehidupan pemiliknya. Dakwah pulalah yang akan menjadi alarm peringatan
bagi nafsu agar ia tetap terkendali dalam kebenaran.
Jika
diibaratkan, fitah manusia adalah jalan lurus yang akan mengantarkannya
pada "tujuan" akhir perjalanan, maka akan ada kalanya manusia itu
berbelok arah, entah karena "bosan" melihat sisi kanan kiri yang
terlihat menyenangkan, atau mungkin karena ada yang "membelokan". Ketika
keluar dari lintasan jalan yang lurus, ada beberapa hipotesis. Ada yang
keluar jalur lantas kembali meniti jalan yang lurus itu, tak dapat
dipungkiri juga ia akan terus berjalan diatas jalan belok tadi hingga
jauh terus menyusurinya lantas enggan untuk " kembali", atau ia hendak
kembali tetapi "lupa" bagaimana caranya, bisa jadi ia ingin "kembali"
tapi ia terlampau gengsi dan sakit hati, atau mungkin "belum" saatnya
Sang Pemilik hidayah merestuinya untuk kembali, serta banyak lagi
kemungkinan lainnya.
Seorang manusia tidak bisa mengubah
seorang individu kembali ke dalam fitri, tetapi ia bisa membantunya
agar ia kembali menemukan jati diri. Seorang anak manusia juga tidak
bisa menjadikan individu tetap dalam ridha Illahi, tapi ia bisa
menjaganya dalam tautan silaturahim. Manusia tidak bisa menjamin dirinya
senantiasa dalam kebenaran. Jelas kiranya bahwa manusia pada dasarnya
butuh akan dakwah sebagai alarm kehidupan yang selalu mengingatkannya
untuk kembali, seruan Illahi melalui pelantara makhluk-Nya, serta bentuk
kepedulian sejati atas keselamatan sesama.
Dakwah juga
dapat diwujudkan sebagai karya yang dimaksud oleh ilustrasi di atas,
karena dakwah adalah seni menawan dalam menyampaikan pesan nan suci.
Bagaimana tidak, "profit" dakwah tidak hanya kepuasaan saat terwujudnya
masterpiece, keuntungan saat mendapat materi dunia, namun lebih besar
dari pada itu, yakni "profit" akhirat sebagai bekal yang mengabadi.
Selain
menjalankan perintah Allah untuk saling manasihati dalam kebenaran dan
kesabaran agar tidak tergolong pada kelompok manusia yang merugi--QS.
al-'Asr--dan ikut andil dalam persebaran Islam di muka bumi, dakwah
adalah bentuk nyata dari kasih sayang sesama manusia yang dapat
menghindarkannya dari sikap individualis. Adapun "profit" dari aktivitas
dakwah diantaranya sebagai berikut:
1. Perwujudan Orang Beriman
Sikap
hidup orang beriman adalah memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah
dari kemunkaran (QS. at-Taubah [9]: 71). Berbeda halnya dengan orang
munafik yang bersikap sebaliknya(QS. at-Taubah [9]: 67). Tidak pelak
lagi bahwa dakwah adalah aktivitas amar ma'ruf nahyi munkar sebagai
wujud dari orang yang beriman.
2. Mewujudkan Tanggung Jawab Bersama
Berdakwah
dalam kehidupan bermasyarakat diibaratkan seperti sekelompok orang yang
menghuni sebuah kapal layar. Ada yang mendapatkan tempat di atas dan
ada juga yang di bawah. Bila orang yang ada di bawah hendak mengambil
air, ia harus naik dan melewati setiap orang yang dilaluinya di setiap
tingkat kapal. Terkadang orang yang di bawah berpikir, "seandainya aku
lubagi saja kapal ini untuk mendapatkan air, maka aku tidak akan
mengganggu orang yang ada di atas". Bagaimana jika orang tersebut
melubangi kapalnya? Jangankan akan sampai pada tujuan, sebelum itu
terjadi mereka akan tenggelam. Apabila mereka mencegahnya, maka mereka
semua akan selamat dan terhindar dari petaka. Begitupun berdakwah di
masyarakat, ketika orang-orang saling mengingatkan dan menyeru pada
kebaikan serta mencegah pada kemunkaran, mereka akan selamat dari
persinggahan menuju tempat tujuan. Sikap tenggang rasa antara penghuni
atas dan bawah kapal juga akan tercipta dengan terciptanya kesadaran
bersama untuk saling menjaga.
3. Bekal Menghadap Allah SWT.
Tentu
kita mengetahui bahwa kehidupan ini hanyalah jembatan yang membentang
pada satu titik akhir, yaitu kematian sebagai gerbang kehidupan yang
kekal. Hidup di dunia hanyalah sementara, namun banyak umat manusia
menjadi budak dunia karena keindahannya yang memperdaya (QS. al-Hadid
[57]: 20), namun ada juga mereka yang menjadikan dunia dalam "
kendalinya" dengan menyikapi dunia "seperlunya".
Hidup
di zaman yang " mempertontonkan" kemaksiatan, "mempertuan" keinginan,
peniadaan kebaikan, dan lain halnya, dakwah dapat dijadikan sebagai
"alasan" saat menghadap Sang Hakim keadilan. Ketika tubuh ringkih
terhuyung ketakutan di depan pengadilan-Nya, saat itulah pengharapan
terbesar untuk diselamatkan dan hanya keridhaan-Nya yang kita perlukan,
pertanyaannya apa yang kita miliki untuk selamat dari murka-Nya? dakwah
adalah salah satu alasan untuk menyelamatkan diri. Ketika zama semakin
tidak karuan, tetaplah gaungkan dakwah. Stereotip "mengepa kau
menasihati kaum yang Allah akan membinasakan dan mengadzab mereka karena
kemaksiatannya dengan adzab yang amat keras?" jawablah dengan tegas,
"itu kami lakukan agar kami memiliki alasan pelepas tanggung jawab
kepada Allah serta agar mereka bertakwa", sebagaimana yang telah Allah
gambarkan dalam QS. al-'Araf [7]: 164.
4. Berpeluang Menjadi Orang yang Beruntung dan Meraih Kesempatan untuk Menjadi Umat Terbaik
Ayat
ini begitu familiar di telinga, QS. Ali-Imran [3]: 104. Menyerukan
kebajikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar adalah aktivitas dakwah. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan
riwayat dari Abu Ja'far al-Baqir yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih
setelah membaca ayat, " Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang
yang mendakwahkan kepada kebaikan", Rasulullah bersabda, "yang dimaksud
dengan kebaikan itu adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku." Jelaslah
kiranya aktivitas dakwah juga merupakan aktivitas menyerukan Firman
Allah dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. baik berupa perintah,
larangan, maupun pembiaran, dengan hukum kedudukannya.
Masih
dalam QS. Ali-Imran [3], pada ayat ke 110 Allah berfirman (yang
artinya), "kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman
kepada Allah..."
Lagi-lagi dan lagi, Allah memberikan peluang yang sangat luar biasa (menjadi sebaik-baiknya umat) dengan aktivitas dakwah.
Masih
rela gak termasuk aktivis dakwah? apa lagi pertimbangan tidak
menjadikan dakwah sebagai karyamu? abil kesempatan emasmu menjadi
aktivis dakwah, segera karyakan dakwahmu.
#adet
#karyakan_dakwahmu
#dakwahmu_karyamu
#menulis_dakwah
#to_be_continue
EmoticonEmoticon