Tasawuf merupaka salah satu usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t . pendapat Imam al-Junaidi yang mengartikan tasawuf sebagai usaha untuk mendapatkan akhlak mulia dan meninggalakan semua akhlak tercela . oleh karena itu terlebih dahulu untuk membersihkan jiwanya untuk selalu melakukan budi pekerti, serta pembangunan kekuatan yang ada pada lahir dan batin guna memperoleh kenikmatan yang abadi.
Jika fiqih bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara tatanan syar’i, dan menampakan hikmah dari setiap hukum. Maka tasawuf bertujuan untuk memperbaiki hati dan memokuskannya hanya kepada Allah semata.
Tasawuf terkadang sulit dijelaskan kepada orang-orang yang selalu mengedepankan logika dan protisme. Tasawuf lebih kepada ilmu personal . dalam arti, tasawuf tidak akan dimengerti dan tidak dapat dipahami apabila orang tersebut tidak mengalaminya. Maka jelaslah ilmu ini harus dijadikan sebagai fasilitas atau sebagai alat jika ingin lebih lanjut mengetahuinya. Ibarat mengajarkan anak supaya dapat membaca. Tidak mungkin dapat memiliki keterampilan mengajar dalam membaca jika pembimbingnya pun tidak dapat membaca.
Dalam sumber ajaran islam,al-Qur’an dan hadis terdapat ajaran yang dapat menimbulkan terhadap tasawuf. Menjelaskan bahwa Tuhan keberadaannya sangat dekat dengan sekali dengan manusia. Ini merupakan ajaran dasar mistisme yang ternyata terdapat dalam Qur’an albaqorah ayat 186, menyatakan:
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwa sanya aku adalah dekat, aku mengabulkan permohonan yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.” (Q.S Al-Baqarah:186)
Kata do’a yang ada dalam penggalan ayat diatas menurut ahli sufi diartikan bukan sebagai sebagai do’a pada umumnya yang lazim dipakaioleh orang kebanyakan. Melainkan dalam arti berseru atau memanggil. Sehingga Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepadanya.
Sebelum mengerti dari tujuan tasawuf terlebih dahulu mengerti pengertian fana dan ma’rifat. Fana dalam arti filosofis adalh meniadakan diri supaya ada. Sedangkan menurut ilmu tasawuf adalah leburnya pribadi pada kebakaan Allah, dimana perasaan manusia akan lenyap diliputi dengan perasaan Ketuhanan. Dengan fana maka akan hilangnya sifat-sifat buruk seperti maksiat batin dan maksiat lahir. Dan kekalnya sifat-sifat terpuji. Adapun pengertian ma’rifat adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan, atau dapat melihat Tuhan dengan kebeningan hati sanubari.
Tasawuf mengantarkan diri setingkat demi setingkat kepada Tuhannya, sehingga dengan demikian dapat merasakan kehadiran -Nya. Maka dari itu tujuan terakhir dari memahami ilmu tasawuf adalah dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan, dan pada puncaknya dapat menemui dan melihat Tuhannya.
Pada mula pembentukan tasawuf adalah dalam bentuk spiritual keagamaan. Moral keagamaan ini telah diatur permanen oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Keseluruhannya berkiblat pada prilaku yang dicontohkan para pelaku sejarah dan sejarah islam yaitu Rasulullah begitupula para sahabatnya.
Namun pada awal disyariatkannya islam tasawuf belum begitu populer, dikarenakan pada kurun waktu itu jarak antara Rasulullah yang menjalani kehidupan asketis masih relatif dekat. Ini terjadi sekitar abad ketiga sampai empat hijriah. Masih banyak orang yang ahli takwa dan ahli ibadah sehingga orang-orang pada kurun waktu tersebut dapat langsung mencontoh atau bahkan berguru langsung kepadanya.
Dengan demikian tak begitu diperlukan kajian-kajian khusus untuk membahas nilai-nilai asketisme yang dijalankan oleh Rasul. Ilmu-ilmu islam termasuk ilmu tasawuf berkembang justru sesudah jauh dari masa ke-Rasullan Muhammad saw.
Sekarang kita sedang menghadapi kehidupan yang serba modern. Banyak sekali godaan dan rintangan yang menghadang. Bila tidak hati-hati dalam menjalani kehidupan seseorang tentunya akan terbutakan oleh dunia. Karena sesungguhnya kehidupan dunia sangatlah mengagumkan bagi orang yang sudah tertipu dalam fana. Maka bukan tidak mungkin dapat menjerumuskan kepada jalan kesesatan yang di laknat oleh Allah. Naudzubillahimindzalik.
Namun demikian, kita tentu harus merasa bersyukur karena upaya untuk menanggulangi tantangan tersebut sedang gencar-gencarnya dikembangkan. Diperkotaan bahkan diperkantoran marak dilakukan pengajian dan majelis taklim untuk membahas akhlak-akhlak Rasulullah. Acara tersebut tidak hanya dijalankan oleh kelompok kelas bawah, tapi juga tingkat atas pada sebuah istansi.
Fenomena kajian dan tasawuf marak menjadadi trend dikalang orang dikota-kota besar. Hal ini juga bukan hanya berlaku dikalangan orang Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global . begitupun jaringan berbagai terekat juga ikut semakin global.
Tasawuf dalam arti jalan hidup spiritual secara perorangan , tidaklah mesti seperti itu. Tasawuf adalah sebagai ilmu yang mengajarkan keshalihan secara individu dan sosial. Hal tersebut mesti dikarenakan merupakan substansi dari pokok ajaran islam. Tidaklah substansial jika seseorang menjelek-jelekan tasawuf apalagi menganggap tasawuf sebagai sesuatu yang bid’ah. Sebaliknya tidak dapat pula seseorang mengatakan bahwa tasauf adalah suatu ajaran yang wajib untuk di amalkan.
Pengalaman syariat haruslah ditunjang dengan nilai sepiritual yang menukik pada perasaan. Hal ini dirasa dapat mengukuhkan kecintaah pada Sang yang Mahamencipta. Mungkin yang paling harus dicermati adalah ketika didapati ajaran tasawuf yang menafikan kehidupan dunia, intelektual, rasinalitas, dan bahkan sangat menghindari perkembangan dunia modern .
Hal yang tak kalah penting ketika baru mempelajari tasawuf adalah jangan sampai jatuh dan terbawa pada ajaran-ajaran tasawuf yang menyimpang dari pokok risalah islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Timbulnya Akhlak Tasawuf
Muhammad merupakan penutup para Nabi dan Rasul. Beliau di utus untuk menyempurnakan agama-agama yang di bawakan oleh nabi dan Rasul sebelumnya. Ajaran yang dibawa oleh muhammad bersifat uiniversal. Artinya berlaku untuk seluruh manusia dan abadi maksudnya sampai ke akhir zaman. Dalam inti ajaran Islam, ialah mengadakan bimbingan bagai kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab dalam bidang inilah terletak hakekat manusia. Sikap mental dan kehidupan jiwa itulah yang menentukan bentuk kehidupan lahir.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : ”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.” Seluruh sejarah hidup dan perjuangan, menjadi bukti bagi kita akan kebenaran ucapan beliau. Dari musa muda hingga dewasa, menyusul masa kebangkitannya menjadi Rasul, penuh dengan bukti-bukti sejarah. Tidak dijumpai cacat dalam sejarahnya, walaupun beliau hidup dalam lingkungan masyarakat jahiliyah. Pribadinya yang agung tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungannya.
Para ahli sejarah islam mengemukakan bahwa suku-suku Arabia sebelum di utusnya Rasul mengalami zaman jahiliyah, tercatat hal-hal yang terlihat bodoh dan mengerikan. Seperti jual beli hamba sahaya,mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mengurangi timbangan dan ukuran saat berdagang, menyembah berhala, dan masih banyak kebodohan-kebodohan yang terdapat pada bangsa Arab sebelum kedatangan islam.
Dalam kondisi seperti itulah Rasulullah hadir dan kemudian hidup secara sempurna. Oleh karena itu sangat logis jika Rasulullah memproklamasikan kerisalahannya. Kebangkitannya menjadi seorang Rasul untuk meluruskan dan menyempurnakan akhlak masyarakat pada waktu itu. Jadi sebenarnya kesadaran tentang akhlak yang baik itu sudah mulai muncul dan tertanam semenjak Rasul masih hidup. Keteladanan Nabi saw pun dalam rangka pembangunan akhlak masyarakat.
Karakteristiknyalah yang kemudian merubah secara revolusioner di zaman dan sesudahnya. Dari masyarakat dan manusia jahiliyah menjadi suatu masyarakat yang betul-betul modern, dimana anggota-anggota masyarakat itu terdiri dari manusia baru, menjadi satu ummat beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Baik kawan maupun lawan mengagumi akan seluruh akhlaknya, masyarakat ketika itu memberinya gelar al-amin (terpercaya). Suatu gelaran yang belum pernah diperoleh manusia manapun di dunia. Gelar tersebut diperolehnya dari masyarakat di masa sebelum dinobatkan menjadi Rasulullah, yaitu ketika masih menjadi anggota biasa dalam masyarakat. Al-Qur‘an sendiri menyatakan, bahwa beliau adalah seorang yang memilki akhlak yang agung perlu dicontoh oleh manusia dengan ungkapan uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi seluruh umat manusia.
Kiranya keseluruhan akhlak beliau itulah yang menjadi modal besar dalam hidup kepemimpinannya mendatang, menumbuhkan wibawa yang kuat dan daya tarik yang hebat. Maka ketika beliau memimpin, segi akhlak inilah yang menjadi intisaridari seluruh ajaran-ajarannya. Manusia diserunya beriman dan bertakwa kepada Allah s.w.t. Diajarnya manusia menghubungkan silaturrahmim satu dengan yang lain, memuliakan tamu, memperbaiki hubungan dengan tetangga, mencintai manusia sebagaimana mencintai diri sendiri. Manusia diajarnya menjadi orang-orang yang penyantun dan dermawan, bahwa tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Kepada orang dituntunnya agar setia memegang amanah, taat pada janji, selalu melaksanakan kewajiban dengan baik sebelum menuntun hak.
Apa yang diserunya dan diajarkannya selalu dicontohkan sendiri dan memancar dari pribadinya yang penyantun dan dermawan, bahwa tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Kepada orang dituntunnya agar setia memegang amanah, taat pada janji, selalu melaksanakan kewajiban dengan baik sebelum menuntun hak.
Apa yang diserunya dan diajarkannya selalu dicontohkan sendiri dan memancar dari pribadinya yang luhur. Perkataannya selalu ekwivalen dengan perbuatannya. Sikap munafik suatu yang paling dibenci dan pasti dihadapinya dengan tegas. Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasulullah, pendidikan akhlakul karimah (akhlak mulia) adalah factor penting dalam membina suatu ummat atau membangun suatu bangsa.
Betapapun melimpah-ruahnya penanaman modal dan besarnya investasi, kalau manusia yang diberikan amanah untuk menjalankannya tidak memilki akhlak yang baik, niscaya segalanya akan berantakan akibat penyelewengan dan korupsi. Demikian pula pembangunan tidak mungkin berjalan hanya dengan kesenangan melontarkan fitnah kepada lawan-lawan politik dan mengadu domba atas perbuatan orang lain.
Oleh karena itu program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha, ialah pembinaan akhlak mulia. harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai ke lapisan bawah. Dan para lapisan atas itulah yang pertama-tama wajib memberikan teladan yang baik kepada masyarakat dan rakyat. Seperti halnya tokoh-tokoh terkemuka, alim ulama, para ustadz dan kaum intelektual termasuk didalamnya mahasiswa dan pelajar.