Rabu, 04 Oktober 2017

Falsafah Hidup Rasulullah

   








        Segala puji serta syukur kepada Allah SWT ,seindah-indahnya perkataan ataupun pembicaraan di awali dengan pujian dan pengagungan kepada Sang Maha Pencipta. Berbicara tentang keagungannya, kegagahannya, dan keindahannya yang tak tertandingi dari siapapun. Shalawat serta salam  terucapkan penuh dengan khidmat dan rindu pada Baginda Alam Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarganya,sahabatnya,dan kita selaku umat yang selalu merindukan perjumpaan dengan beliau baik secara dzahir ataupun batin. 

       Dalam kesempatan ini,akan ditulis beberapa pokok penting dalam di kehidupan Rasululah SAW.Sempat merenung sejenak setelah sedikit demi sedikit mengetahui sejarah nya Rasulullah SAW. Dalam renungan itupun muncul beberapa pertanyaan, bagaimana Rasulullah SAW begitu kokoh akidah dalam dakwahnya ditengah keadaan bangsa Arab yang masih jauh dari kebenaran? Begitu tenang dalam menghadapi ummat nya yang hanya bisa menolak dan mencaci maki beliau? Dan begitu semangat nya beliau dalam beribadah, padahal tapak jejaknya Rasulullah SAW sudah ada di syurga sana? Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya mengajak kepada para pembaca untuk saling mentadaburi sejarah perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah yang agung ini.

      Dari tiga pertanyan tersebut yang mengarah nya yakni pada cara hidup nya Rasulullah SAW. Ternyata Rasulullah SAW mempunyai tiga falsafah hidup yang ia tentukan dan dipegang erat falsafah hidupnya tersebut. Mengapa saya ingin mengajak mentadaburi bersama-sama, karena ini hanya lah yang saya tahu dan sedikit sekali yang saya dapat dari begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil.

       Falsafah hidupnya Rasulullah SAW yang pertama, Nabi mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara maka pandangan Rasulullah SAW kepada dunia itu seperti halnya tempat persinggahan. Dimana ada tempat singgah maka ada tempat terakhir yang harus dituju. Perumpamaan nya seorang musafir yang meneduh di pohon beringin besar ditengah perjalanan nya yang begitu melelahkan dan cuaca yang panas pula. Atau ketika kita mudik ke kampung halaman pun dalam perjalanan jauh itu kita selalu mampir ke tempat peristirahatan seperti rest area, terminal, stasiun, atau masjid. Apa bukti kalau memang dunia itu tempat persinggahan dilatarbelakangi waktu yang sementara ?  Terkadang kita merasakan senang tiba-tiba sedih, terkadang pula kita sakit dan merasakan hidup sehat, kejayaan dengan kemunduran, kekayaan dengan kemiskinan, semua itu membuktikan bahwa keadaan yang tidak menetap itu sementara hukumnya. Yang disesalkan oleh saya pribadi karena saya terlalu tergiur dengan kefanaan , selalu meremehkan potensi yang diberikan oleh Allah itu untuk dipergunakan sebaik-baik munkgin dalam koridor ajaran-ajaranNya berdampak hidup saya yang kurang bersyukur.Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan keluarga saya , dijauhi dari sifat kufur yang dibenci oleh Allah SWT.

      Falsafah hidup yang kedua, Rasulullah SAW meyakini bahwa ada sebuah kehidupan yang memang kita hidup di kehidupan tersebut yang bersifat kekal seperti yang sudah di paparkan sebelumnya. Tempat yang kekal dan kehidupan sebenar-benarnya ialah akhirat. Rasulullah begitu yakin sekali kita semua akan berada di alam sana. Hanya , pintar nya Rasulullah SAW yaitu menjadikan kehidupan dunia itu sebagai ajang pembekalan yang akan nanti dibawa ke kehidupan abadi. Disana kita akan berjumpa pada zat Yang Maha Suci dan bertemu sosok yang tergambar dari hasil prilaku dan usaha kita di kehidupan dunia. Segala perbuatan di kehidupan akhirat akan diminta pertanggung-jawabannya baik umurnya,hartanya,ilmunya dan amal-amalnya.

      Falsafah hidup yang ketiga, bahwasanya kebahagiaan Rasulullah SAW bukan terletak pada harta atau tahta. Kebahagiaan yang beliau lihat bukan secara lahiriyah melainkan dirasakan secara bathiniyah. Kebahagiaan yang beliau rasakan begitu dekat, selalu bersemayam ketenangan di dalam kehidupan nya. Kebahagiaan menurut kita di zaman sekarang itu karena harta melimpah ruah, tahta tinggi yang ingin dikuasai. Tapi kita lupa dan terlena dari semua itu, yang sebenarnya Islam mengajarkan untuk bahagia bersama Tuhan bukan senang bersama makhluk Tuhan. Maka letak kebahagiaan Rasulullah SAW yang membuahkan pada ketenangan,ketentramannya yaitu ketakwaan dalam diri dan keimanan dalam hati.









Pemuda Ruh Peradaban Bangsa





Wahai pemuda-pemudi Bangsa Indonesia
Bangunlah dari ketidak-tahuanmu
Bangkitlah dari keterpurukanmu
Bergegaslah dari kelalaian mu
Dan berjuanglah demi menjaga kehormatan Tanah Air Mu .

Wahai pemuda yang ingin dirindukan insan yang mulia
Setiap alur kehidupan manusia di dunia fana
Akan di berikan sebuah kekuatan diantara dua kelemahan
Kekuatan yang suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan
Dan kelemahan yang penuh dengan keterbatasan tanpa kita ketahui, pasti dirasakan.

Esensi perubahan Bangsa
     Bangsa Indonesia merupakan wilayah yang cukup lama di monopoli oleh bangsa sekutu dunia karena kekayaan alamnya yang sungguh melimpah bagaikan surga dunia yang tiada tara.Berbagai alam bahari yang terbentang luas dan berisi akan sesuatu yang tidak ada habisnya.Wilayah yang terletak  tepat pada garis khatulistiwa yang memberikan tanda bahwa wilayah yang subur alam kehidupan nya dan tak akan pernah terkubur kekayaan nya.Para penjajah yang bersikeras ingin sekali menguasai wilayah nusantara ini karena keadaan dan letak wilayah yang strategis dibuktikan oleh kekayaan alam yang melimpah.Akan tetapi semua usaha para penjajah terpental jauh sampai terbirit-birit pergi dari Indonesia berkat pengorbanan darah suci para generasi ibu pertiwi yang berjuang mempertahankan Negeri.Sejarah Indonesia tak luput dari peristiwa Sumpah Pemuda,yang mana pada saat genting nya keadaan Nusantara,carut marut nya para penguasa,terbelenggu nya kebebasan bangsa, hanya Pemuda yang bisa merubah semuanya.Mereka mempunyai kekuasaan dilawan dengan kemauan,mereka mempunyai senjata dilawan dengan semangat baja,mereka mempunyai amunisi dilawan dengan berani.Pada saat itu pula para pemuda dijadikan sebagai komponen utama dalam perubahan Bangsa.Yang pada hakikatnya bahwa semangat bersatu dan menyatukan adalah pondasi kebebasan ,berani mengorbankan jiwa dan raga hanya untuk mempertahankan keutuhan Bangsa merupakan pagar kesejahteraan, dan pergerakan pemuda Bangsa adalah ruhnya dari perubahan.Oleh karena itu bangunlah,bangkitlah,bergegaslah,dan berjuang lah!
     Telah dilukiskan dalam pidato Amir Syarifuddin pada Kongres Pemuda beliau berkata, “ Hai pemuda,jika kamu memegang bedil di tanganmu kanan,haruslah kamu memegang palu di tanganmu kiri.Dan jika kamu memegang pedangmu ditangan kanan,peganglah arit di tanganmu kiri!”.

Kondisi saat ini waktu bukan sebagai kawan atau lawan
     Semua orang memiliki jangka rotasi kehidupan yang sama mulai dari detik,menit,bulan, dan tahun yang tidak ada perbedaan dalam jangka waktunya.Hanya ada masa lampau dan masa yang akan datang dalam menjalani kehidupan ini.Masa usia di kala muda merupakan fase yang paling berharga dan waktu yang cemerlang dalam mengasah,mengolah potensi yang ada dalam dirinya.Akan tetapi di saat ini kondisi para pemuda Bangsa sungguh memprihatinkan.Mengapa? Dalam sebuah hasil pengamatan yang mendasari bahwa perhatian Remaja Indonesia terhadap masalah waktu terluang kurang,terbukti dari hasil angket prosentase tertinggi tidak lebih dari 71,58% dan pada penilaiannya para pemuda belum bisa memanfaatkan waktu terluangnya.
“Masa ibarat mata pedang,sekiranya kamu tidak memotongnya,niscaya ia memotong kamu”
Resiko jika waktu menjadi lawan
     Pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang selalu bergerak,berinteraksi,berpikir, dan mencari.Adapun waktu merupakan sebuah anugerah yang telah Allah berikan kepada kita agar senantiasa bisa memanfaatkan anugerah tersebut untuk dijadikan hanya sebagai pengabdian bukan pengingkaran.Masa itu bisa menjadi lawan jika kita tidak bersikap sebagai kawan.Jika waktu mu banyak yang terbuang ,maka manfaatkanlah.Jika waktu mu penuh dengan kesibukan,maka sibukkanlah dalam kebaikan.Jika waktu mu disibukkan dalam kebaikan maka Sang pemberi Anugerah akan melimpahkan kebaikan yang tak terduga bukti bahwa kita ingin menjadikan waktu itu sebagai teman.Jika waktu mu banyak yang terbuang dan tidak digunakan maka penyesalan yang akan mengampirimu,jika waktu mu tidak disibukkan dengan kebaikan maka kebathilan lah yang akan menyibukkanmu, dan jika kebathilan yang menyibukkanmu maka pintu kehinaan dan hawa nafsu lah yang akan menguasai mu.Sebagaimana perkataan dari Khallifah Umar ibn Khattab, “ Aku sangat tidak suka melihat orang yang menganggur,tidak bekerja untuk dunia dan tidak berusaha untuk akhirat! “
“ Barang siapa yang hari ini seperti hari kemarin ia adalah orang tertipu dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin ia adalah orang tercela”












Sabtu, 23 September 2017

TAHAN BANTING



TAHAN BANTING


Kebanyakan dari manusia ketika tertimpa kemalangan, kesusahan, atau musibah dalam bentuk kesengsaraan, mereka akan merasa makhluk yang paling menyedihkan di dunia. Mematung berdiam diri, meratap, menyalahkan siapapun dan apapun dalam benak mereka, tak terbilang juga yang mengakhiri nyawa, mereka kira urusan akan berakhir pada kematian, konyol.


Mereka selalu menonggak ke atas, seakan leher mereka terbuat dari beton baja tidak mengalihkan pandangan dari aurora kehidupan orang lain yang menurut versinya itulah kehidupan yang mereka inginkan. Mereka selalu kagum melihat orang-orang hebat memberikan pidato, seminar, simposium, dan lain halnya. Mereka terus bermimpi, menyulam mimpi dalam tidur yang nyenyak tanpa merasa perlu melek dan bangun untuk mewujudkan mimpi itu.


Banyak kalimat motivasi membesarkan hati memenuhi status-status quotes media sosial, mereka hanya sibuk membaca, merasa tergugah seketika, kemudian menyampaikannya kepada yang lain, menunjukan sisi bijaknya dalam mendapatkan citra di hadapan manusia. Tapi nol mereka dapatkan, zonk! Mereka sama sekali tidak melakukan tindakan nyata sebagai wujud tergugahnya hati mereka. Nihil.


Ketika kita melihat seseorang gagah berdiri mentereng dikenal setiap lapisan sosial, melihat betapa tangguhnya ia, betapa beruntungnya ia, betapa takdir berbaik hati padanya. Jangan melihat itu semua sekarang saat ia berdiri kokoh dalam pijakan, tapi tanyakanlah berapa ribu rintangan yang menghadangnya dalam perjalanan, berapa kali ia harus terpuruk dalam dinginnya tangan takdir yang sama sekali tidak pernah dan tidak akan bertanya bagaimana perasaannya saat ia terjerembab jatuh kedalam dasar kenistaan.


Tujuh miliyar penduduk planet bumi galaksi bima sakti ini semuanya dari ayah Adam yang sama, Ibu Hawa yang satu. Mereka memiliki bekal potensi yang juga sama, mereka sama-sama tidak mengetahui sesuatu pun sejak oksigen pertama dihirupnya, jika masih ragu silahkan buka kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya (QS. Al-Baqarah [2]: 2), buka adz-Dzikru tersebut tepat pada surat ke-16, an-Nahl ayat 78. Berikut terjemah yang dapat dipahami, mudah-mudahan tidak menyalahi arti sesungguhnya. “Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahu sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”


Proses kehidupan yang mereka jalani yang akan membedakan mereka, nilai mereka akan berbeda satu sama lain tergantung pada kualitas diri mereka yang ditempa dengan berbagai ujian dan cobaan. Ada diantaranya yang sukses menghadapi tempaan hidup, pun banyak diantara mereka hanya mengantongi nilai rendah. Tempaan mereka tak ubahnya seperti dua karbon yang terpaut jauh dalam nilai dan kualitas. Keduanya kita kenal dengan nama berlian dan arang.


Berlian, benda yang satu ini menjadi dambaan banyak kalangan, tidak hanya kaum Hawa yang identik dengan keindahan, kaum Adam pun tidak ketinggalan. Kilaunya yang mengagumkan dapat menyihir setia pasang mata yang memandangnya. Ia menjadi brand dari strata teratas dalam interaksi sosial manusia. Alat pahatnya pun tidak sembarangan, gergajinya sangat khusus, pengrajinnya memperlakukan ia seperti ratu, takut sekali terkena debu, tempat ia bertahta pun dibuat sedemikian rupa nyamannya dibingkai indah etalase kaca menawan penglihatan, kokohnya nyata terlihat.


Mari lihat karbon yang satunya. Ia terlihat legam, si punya meletakkannya diatas tanah tanpa alas, tempatnya berada sama hitam dengan dirinya, jangan tanya bagaimana perlakuan manusia terhadapnya terinjak pun ia tak apa dan dilewatkan begiu saja. Bentuknya tidak beraturan, jauh dari kata kokoh, ia rapuh. Nilainya dapat terlihat sendiri dari kualitasnya.


Berlian, tidak sim salabim memikat hati dengan nilai dan kualitas tinggi. Kokohnya ia tidak lain didapatkan dari tempaan temperatur tinggi, tekanan eksrim, dan  dengan waktu yang tidak sebentar lama sekali proses tersebut berlangsung. Beda halnya dengan rapuhnya arang, ia dihasilkan dari temperatur rendah, tekanan seadanya, dan waktu yang terbilang singkat tidak memerlukan waktu lama.


Begitupun manusia. Allah sang Maha Raja dari raja-raja mustahil menempatkan berlian pada posisi arang atau sebaliknya menempatkan arang pada posisi berlian. Ketika datang ujian dari Allah, sejatinya itu adalah temperatur tinggi serta tekanan ekstrim yang terjadi dalam waktu yang tidak singkat. Jika manusia dapat melalui proses tersebut ia akan menjadi berlain, jika ia menyerah lalu keluar menginggaki ujian tersebut akan menjadi kabon kedua yaitu arang.


Sejatinya diri kita bukan milik kita, Allah adalah pemilik jiwa raga segala yang ada di alam raya. Dia tahu kadar kemampuan dari setiap makhluk ciptaan-Nya, mustahil bagi-Nya melakukan kesalahan membebani makhluk dengan beban yang tidak mampu ditanggungnya. Jelas kiranya dalam QS. al-Baqarah [2]: 286 Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menimpakan sesuatu kepada hambanya diluar batas kemampuannya. Janji Allah adalah sebenar-benarnya janji.


Tidak usah risau menjalani sukarnya belukar hidup yang terhampar. Tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang lain. Cukup tenang, terima dengan lapang, dan jalani setiap proses tempaan hidup, kemudia bersyukur atas setiap nafas yang dapat dihembuskan. Jadilah berlian, jangan lari dari kenyataan yang akan menjadikanmu sebagai arang.


Tidak perlu juga merasa menjadi makhluk paling mengenaskan di dunia, berhenti menonggak gemintang yang berkilauan. Lihatlah betapa beruntungnya dirimu meski itu dalam keadaan yang sangat menyesakan. Tundukan kepalamu, lebih banyak orang dengan nasib dan tempaan yang lebih berat darimu, mereka tidak leluasa mengambil oksigen gratis yang ada di bumi karena sesaknya paru kehidupan mereka. Pengemban risalah mulia, Rasul saw. begitu bijak bersabda tentang larangan bagi pengikutnya untuk melihat kehidupan yang ada di atas yang akan menyebabkannya ingkar terhadap karunia Allah, yang tidak lain memerintahkan untuk melihat kehidupan yang berada di bawah dengannya rasa syukur dan kepedulian akan menyeruak sebagai kualitas pribadi hamba-Nya.

Note: adz-Dzikru adalah nama lain dari al-Quran, dikatakan demikian (adz-Dzikru, yang memberikan peringatan) karena memang al-Quran adalah pemberi peringatan bagi yang membacanya agar senantiasa mingingat-Nya selama menjalani kehidupan di dunia fana.


Oleh: Adetia Siti Nurmalulloh

PRIBADI BARU


PRIBADI BARU


Sekilas tak ada bedanya aku dengan mereka, tapi jelas aku berbeda diantara mereka. Secara psikologis kebanyakan orang tidak senang dibandingkan dengan yang lainnya, begitupun aku. Aku menyakini setiap orang adalah pribadi yang unik yang tidak sama satu dan lainnya. Tapi aku tidak bisa lantang mengutarakan pikiranku kepada ayah-ibu yang terkadang lupa membandingkanku dengan yang lain. Aku tahu tidak seharusnya begitu, tapi dengan segala hormat aku menerima itu semua, keduanya hanya ingin menyemangatiku, tak ada yang salah akan hal itu.
Dalam setiap kehidudupan banyak sekali peristiwa yang besebrangan dengan keinginan. Bukankah itu lebih baik daripada semuanya berjalan sesuai apa yang kita inginkan? Betapa membosankan ketika itu terjadi, tidak akan ada yang tahu bagaimana indahnya seni fighting, motivasi, problem soulving, juga konseling.
Jikalah kita bersedia melihat segala hal dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang sebaliknya, serta pendirian yang anti mainstream. Sebagai contoh, apa yang dirasakan ketika belum mecapai apa yang kita usaha? Atau ungkapan yang lebih sadis, bagaimana rasanya jika kita gagal ditengah jalan? Jangankan melihat hasil akhir dari perjalan, sampai pada perbatasannyapun tidak. Sakit memang.
Apa yang bisa kita lakukan. Mengumpat nasib? Menghancurkannya kemudian lari? Menyalahkan orang lain? Atau terpuruk meratap masa depan yang menjadi suram? Itu semua mudah dilakukan tapi percalah, dengan berbuat demikian tidak akan mengembalikan harapan kita. Apalagi ketika kita berpangku tangan, lengkap sudah detail sebagai pecundang kehidupan.
Ketahuilah, takdir tidak akan mengiba siapapun di dunia ini. Betapapun kita mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah tiada henti takdir tidak akan berbalik bahkan menengok pun tidak. Itu hanya akan menunjukan betapa sampahnya hidup kita dengan semua cerecau menjijikan mengotori lisan. Atau ketika kita merasa kesal lantas menghancurkan harapan kita tanpa bentuk lantas lari meninggalkan kenyataan tidak akan mengubah apapun, bahkan sebelum benar-benar menghancurkannya kita akan lebih dulu hancur dengan pil pahit yang dibawanya. Percuma juga ketika lari meninggalkannya secepat pemegang rekor lari tercepat di dunia, kegagalan kita akan tetap menjadi bagian dari kehidupan, tidak akan ada yang berubah. Wah jangan terlintas sedikitpun untuk menyalahkan orang lain dalam kegagalan yang kita temukan, itu hanya akan memperjelas di minus sekian nilai diri kita. Terpuruk? Katakan tidak! Untuk apa meratapi itu dengan tatapan nanar menerawang di dalam bilik kamar bergelung selimut meringkuk di atas dipan, kita hanya akan terlihat seperti pesakitan yang kehilangan jiwa.
Sedih wajar, menangis juga sehat, marah tak ada salahnya. Tapi kehidupan tidak akan berbaik dengan sendirinya, saatnya kita bangkit kembali berusaha demi simpul senyum melihat matahari terbit esok lusa dengan gemilang ada dalam genggaman. Siapa yang dapat melakukan itu? Kita. Kapan kita akan bermetamorfosis dari menjiikan menjadi indah tak berbilang? Saat ini juga. Dimana kita memulai perubahan itu semua? Mulailah dimanapun sekarang kita berada.
Jauh sebelum ditemukannya istilah seni memotivasi diri, training bagaimana mencapai sukses setelah jongkok, konseling bagaimana cara berlari setelah merangkak, Tuhan yang Maha Esa menyampaikan kalam-Nya melalui utusan mulia salallahu ‘alaihi wasallam. Gengs, sudahkah kalian tahu itu? Untaian indah kalimatnya akan membawa kita pada point of view yang berbeda, padangan yang menentramkan jiwa yang gersang. Ungkapan tersebut ada dalam manual book kita sebagai orang yang mengaku muslim tepatnya dalam Quran surat ar-Rad ayat 11, berikut terjemah ayat tersebut, mudah-mudahan tidak menyalahi dan mengurangi sedikitpun hikmah dari firman-Nya. “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ...
Itulah hal hebat yang mampu kita lakukan, mengubah alur kehidupan titipan ini. Tidak mesti kita bertransformasi dalam sekejap, mulailah dari mengubah point of view kita tentang hidup dan kehidupan. Kita hanya perlu membalik sedikit sisi hati kita, ketika kecewa kita dapat menerima, ketika getir kita mampu tersenyum manis, saat kenyataan pahit tertelan anggaplah itu obat mujarab yang mengobati sakit kita, saat semua seolah tidak berpihak kepada kita disanalah akan kita dapatkan kemandirian.
Terlebih dari itu semua, hal menakjubkan yang dapat kita lakukan untuk mengubah total segala yang kita alami adalah berysukur. Mudah memang mengatakannya, tapi tidak demikian ketika akan menjalankannya. Lantas bagaimana kita bisa bersyukur? Ya mulailah, tidak ada jalan lain selain memulainya. Ingin tahu ada apa dengan syukur? Allah dengan jelas menyatakan dalam al-Huda surat Ibrahim ayat 7. Kurang lebih berikut terjemah yang akan disajikan, mudah-mudahan tidak jauh dari maksud ayat tersebut. “... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.”
Betapa kerennya bersyukur, ketika kita melakukannya Allah dengan tegas menyatakan akan menambahkan nikmat yang telah kita peroleh. Jangan sampai kita tergolong orang yang ingkar nikmat-Nya, rugi dua kali tuh, udah gagal terancam adzab pula. Naudzubillah, serem. Syukuri kegagalan yang kita alami, itu akan lebih menguntungkan, nikmat yang kita peroleh jelas bertambah. Apanya yang nikmat jika kita gagal? Tentu saja nikmat ketika kita berproses membangun kesuksesan berikutnya, indah bukan? Pasti.
Kembali lagi pada proses berubah, bukan berubah seperti power rangers menjadi merah, kuning, biru, hijau, pink, putih, hitam dengan kekuatan masing-masing yang berbeda, tapi kita berubah menjadi pribadi baru dengan pemahaman yang kokoh. Mungkin sempat mampir di telinga pertanyaan orang yang putus asa, jika Allah Maha Pengasih dan Penyayang kenapa pula Dia membiarkan hambanyanya berada dalam kesulitan? Come on! Singkirkan jauh-jauh jangan sampai terngiang dalam ingatan, kunci rapat-rapat setiap pintu yang akan membisikan kembali pertanyaan itu. Ketika kita gundah, gelisah, banyak pertanyaan yang tidak dapat kita jawab buka as-Syifa, insyaallah tenang dah hati kita.
Pada surat kedelapan (al-Anfal) ayat 53, dapat kita pahami dalam terjemahan para mufasir berikut, “... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri...” dalam surat ini kita kembali menemukan perintah agar mengubah keadaan diri kita untuk mendapatkan nikmat yang kita harapkan dari Allah.
Jelaslah sudah bagaimana kita melukiskan indah guratan takdir. Jangan mengumpat dan menyesali kegagalan, bersyukurlah karena itu pernah mewarnai ragam perjalanan. Jangan sedih berkepanjangan ketika belum mencapai harapan, bersyukurlah karena kita diberi keinginan untuk mewujudkannya. Tumbuhkanlah selalu nasihat seorang khalifah yang gagah berani, Umar bin Khatab. “Jika memang itu untukku maka ia tidak akan melewatkanku. Jika ia melawatkanku maka ia bukan untukku.”

Just for your information gengs, al-Huda dan asy-Syifa adalah nama lain dari al-Quran, way of life yang kita miliki.



Rabu, 31 Mei 2017

Esensi Tasawuf Pada Era Modern




Tasawuf merupaka salah satu usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah s.w.t . pendapat Imam al-Junaidi yang mengartikan tasawuf sebagai usaha untuk mendapatkan akhlak mulia dan meninggalakan semua akhlak tercela . oleh karena itu terlebih dahulu untuk membersihkan jiwanya untuk selalu melakukan budi pekerti, serta pembangunan kekuatan yang ada pada lahir dan batin guna memperoleh kenikmatan yang abadi.
Jika fiqih bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara tatanan syar’i, dan menampakan hikmah dari setiap hukum. Maka tasawuf bertujuan untuk memperbaiki hati dan  memokuskannya hanya kepada Allah semata.
Tasawuf terkadang sulit dijelaskan kepada orang-orang yang selalu mengedepankan logika dan protisme. Tasawuf lebih kepada ilmu personal . dalam arti, tasawuf tidak akan dimengerti dan tidak dapat dipahami apabila orang tersebut tidak mengalaminya. Maka jelaslah ilmu ini harus dijadikan sebagai fasilitas atau sebagai alat jika ingin lebih lanjut mengetahuinya. Ibarat mengajarkan anak supaya dapat membaca. Tidak mungkin dapat memiliki keterampilan mengajar dalam membaca jika pembimbingnya pun tidak dapat membaca.
 Dalam sumber ajaran islam,al-Qur’an dan hadis terdapat ajaran yang dapat menimbulkan terhadap tasawuf. Menjelaskan bahwa Tuhan keberadaannya sangat dekat dengan sekali dengan manusia. Ini merupakan ajaran dasar mistisme yang ternyata terdapat dalam Qur’an albaqorah ayat 186, menyatakan:
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwa sanya aku adalah dekat, aku mengabulkan permohonan yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada di dalam kebenaran.” (Q.S Al-Baqarah:186)
 Kata do’a yang ada dalam penggalan ayat diatas menurut ahli sufi diartikan bukan sebagai sebagai do’a pada umumnya yang lazim dipakaioleh orang kebanyakan. Melainkan dalam arti berseru atau memanggil. Sehingga Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepadanya.
 Sebelum mengerti dari tujuan tasawuf  terlebih dahulu mengerti pengertian fana dan ma’rifat. Fana dalam arti filosofis adalh meniadakan diri supaya ada. Sedangkan menurut ilmu tasawuf adalah leburnya pribadi pada kebakaan Allah, dimana perasaan manusia akan lenyap diliputi dengan perasaan Ketuhanan. Dengan fana maka akan hilangnya sifat-sifat buruk seperti maksiat batin dan maksiat lahir. Dan kekalnya sifat-sifat terpuji. Adapun pengertian ma’rifat adalah pengetahuan hakiki tentang Tuhan, atau dapat melihat Tuhan dengan kebeningan hati sanubari.
 Tasawuf mengantarkan diri setingkat demi setingkat kepada Tuhannya, sehingga dengan demikian dapat merasakan kehadiran -Nya. Maka dari itu tujuan terakhir dari memahami ilmu tasawuf adalah dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan, dan pada puncaknya dapat menemui dan melihat Tuhannya.
Pada mula pembentukan tasawuf adalah dalam bentuk spiritual keagamaan. Moral keagamaan ini telah diatur permanen oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Keseluruhannya berkiblat pada prilaku yang dicontohkan para pelaku sejarah dan sejarah islam yaitu Rasulullah begitupula para sahabatnya.
 Namun pada awal disyariatkannya islam tasawuf belum begitu populer, dikarenakan pada kurun waktu itu jarak antara Rasulullah yang menjalani kehidupan asketis masih relatif dekat. Ini terjadi sekitar abad ketiga sampai empat hijriah. Masih banyak orang yang ahli takwa dan ahli ibadah sehingga orang-orang pada kurun waktu tersebut dapat langsung mencontoh atau bahkan berguru langsung kepadanya.
Dengan  demikian tak begitu diperlukan kajian-kajian khusus untuk membahas nilai-nilai asketisme yang dijalankan oleh Rasul. Ilmu-ilmu islam termasuk ilmu tasawuf berkembang justru sesudah jauh dari masa ke-Rasullan Muhammad saw.
 Sekarang kita sedang menghadapi kehidupan yang serba modern. Banyak sekali godaan dan rintangan yang menghadang. Bila tidak hati-hati dalam menjalani kehidupan seseorang tentunya akan terbutakan oleh dunia. Karena sesungguhnya kehidupan dunia sangatlah mengagumkan bagi orang yang sudah tertipu dalam fana. Maka bukan tidak mungkin dapat menjerumuskan kepada jalan kesesatan yang di laknat oleh Allah.  Naudzubillahimindzalik.
 Namun demikian, kita tentu harus merasa bersyukur karena upaya untuk menanggulangi tantangan tersebut sedang gencar-gencarnya dikembangkan. Diperkotaan bahkan diperkantoran marak dilakukan pengajian dan majelis taklim untuk membahas akhlak-akhlak Rasulullah. Acara tersebut tidak hanya dijalankan oleh kelompok kelas bawah, tapi juga tingkat atas pada sebuah istansi.

Fenomena kajian dan tasawuf marak menjadadi trend dikalang orang dikota-kota besar. Hal ini juga bukan hanya berlaku dikalangan orang Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global . begitupun jaringan berbagai terekat juga ikut semakin global.
 Tasawuf dalam arti jalan hidup spiritual secara perorangan , tidaklah mesti seperti itu. Tasawuf adalah sebagai ilmu yang mengajarkan keshalihan secara individu dan sosial. Hal tersebut mesti dikarenakan merupakan substansi dari pokok ajaran islam. Tidaklah substansial jika seseorang menjelek-jelekan tasawuf apalagi menganggap tasawuf sebagai sesuatu yang bid’ah. Sebaliknya tidak dapat pula seseorang mengatakan bahwa tasauf adalah suatu ajaran yang wajib untuk di amalkan.
 Pengalaman syariat haruslah ditunjang dengan nilai sepiritual yang menukik pada perasaan. Hal ini dirasa dapat mengukuhkan kecintaah pada Sang yang Mahamencipta. Mungkin yang paling harus dicermati adalah ketika didapati ajaran tasawuf yang menafikan kehidupan dunia, intelektual, rasinalitas,  dan bahkan sangat menghindari perkembangan dunia modern .
 Hal yang tak kalah penting ketika baru mempelajari tasawuf adalah jangan sampai jatuh dan terbawa pada ajaran-ajaran tasawuf yang menyimpang dari pokok risalah islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.



Timbulnya Akhlak Tasawuf

Muhammad merupakan penutup para Nabi dan Rasul. Beliau di utus untuk menyempurnakan agama-agama yang di bawakan oleh nabi dan Rasul sebelumnya. Ajaran yang dibawa oleh muhammad bersifat uiniversal. Artinya berlaku untuk seluruh manusia dan abadi maksudnya sampai ke akhir zaman. Dalam inti ajaran Islam, ialah mengadakan bimbingan bagai kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab dalam bidang inilah terletak hakekat manusia. Sikap mental dan kehidupan jiwa itulah yang menentukan bentuk kehidupan lahir.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : ”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.” Seluruh sejarah hidup dan perjuangan, menjadi bukti bagi kita akan kebenaran ucapan beliau. Dari musa muda hingga dewasa, menyusul masa kebangkitannya menjadi Rasul, penuh dengan bukti-bukti sejarah. Tidak dijumpai cacat dalam sejarahnya, walaupun beliau hidup dalam lingkungan masyarakat jahiliyah. Pribadinya yang agung tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungannya.
Para ahli sejarah islam mengemukakan bahwa suku-suku Arabia sebelum di utusnya Rasul mengalami zaman jahiliyah, tercatat hal-hal yang terlihat bodoh dan mengerikan. Seperti jual beli hamba sahaya,mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mengurangi timbangan dan ukuran saat berdagang, menyembah berhala, dan masih banyak kebodohan-kebodohan yang terdapat pada bangsa Arab sebelum kedatangan islam.
Dalam kondisi seperti itulah Rasulullah hadir dan kemudian hidup secara sempurna. Oleh karena itu sangat logis jika Rasulullah memproklamasikan kerisalahannya. Kebangkitannya menjadi seorang Rasul untuk meluruskan dan menyempurnakan akhlak masyarakat pada waktu itu. Jadi sebenarnya kesadaran tentang akhlak yang baik itu sudah mulai muncul dan tertanam semenjak Rasul masih hidup. Keteladanan Nabi saw pun dalam rangka pembangunan akhlak masyarakat.
Karakteristiknyalah yang kemudian merubah secara revolusioner di zaman dan sesudahnya. Dari masyarakat dan manusia jahiliyah menjadi suatu masyarakat yang betul-betul modern, dimana anggota-anggota masyarakat itu terdiri dari manusia baru, menjadi satu ummat beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Baik kawan maupun lawan mengagumi akan seluruh akhlaknya, masyarakat ketika itu memberinya gelar al-amin (terpercaya). Suatu gelaran yang belum pernah diperoleh manusia manapun di dunia. Gelar tersebut diperolehnya dari masyarakat di masa sebelum dinobatkan menjadi Rasulullah, yaitu ketika masih menjadi anggota biasa dalam masyarakat. Al-Qur‘an sendiri menyatakan, bahwa beliau adalah seorang yang memilki akhlak yang agung perlu dicontoh oleh manusia dengan ungkapan uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi seluruh umat manusia.
Kiranya keseluruhan akhlak beliau itulah yang menjadi modal besar dalam hidup kepemimpinannya mendatang, menumbuhkan wibawa yang kuat dan daya tarik yang hebat. Maka ketika beliau memimpin, segi akhlak inilah yang menjadi intisaridari seluruh ajaran-ajarannya. Manusia diserunya beriman dan bertakwa kepada Allah s.w.t. Diajarnya manusia menghubungkan silaturrahmim  satu dengan yang lain, memuliakan tamu, memperbaiki hubungan dengan tetangga, mencintai manusia sebagaimana mencintai diri sendiri. Manusia diajarnya menjadi orang-orang yang penyantun dan dermawan, bahwa tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Kepada orang dituntunnya agar setia memegang amanah, taat pada janji, selalu melaksanakan kewajiban dengan baik sebelum menuntun hak.
Apa yang diserunya dan diajarkannya selalu dicontohkan sendiri dan memancar dari pribadinya yang penyantun dan dermawan, bahwa tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Kepada orang dituntunnya agar setia memegang amanah, taat pada janji, selalu melaksanakan kewajiban dengan baik sebelum menuntun hak.
Apa yang diserunya dan diajarkannya selalu dicontohkan sendiri dan memancar dari pribadinya yang luhur. Perkataannya selalu ekwivalen dengan perbuatannya. Sikap munafik suatu yang paling dibenci dan pasti dihadapinya dengan tegas. Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasulullah, pendidikan akhlakul karimah (akhlak mulia) adalah factor penting dalam membina suatu ummat atau membangun suatu bangsa.
Betapapun melimpah-ruahnya penanaman modal dan besarnya investasi, kalau manusia yang diberikan amanah untuk menjalankannya tidak memilki akhlak yang baik, niscaya segalanya akan berantakan akibat penyelewengan dan korupsi. Demikian pula pembangunan tidak mungkin berjalan hanya dengan kesenangan melontarkan fitnah kepada lawan-lawan politik dan mengadu domba atas perbuatan orang lain.
Oleh karena itu program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha, ialah pembinaan akhlak mulia. harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai ke lapisan bawah. Dan para lapisan atas itulah yang pertama-tama wajib memberikan teladan yang baik kepada masyarakat dan rakyat. Seperti halnya tokoh-tokoh terkemuka, alim ulama, para ustadz dan kaum intelektual termasuk didalamnya mahasiswa dan pelajar.

Senin, 06 Maret 2017

Perbaiki Jadwal Shalatmu Agar Allah Senantiasa Mengatur Jadwal Hidupmu

Shalat adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap umat islam, dan shalat pulalah yang akan menjadi hisaban pertama amal kita kelak dihadapan Allah, maka dari itu kita sebagai orang islam harusnya selalu bisa menjaga shalat.

Karena ketika kita menjaga shalat kita kepada Allah, maka Allah pula akan menjaga segala sesuatu yang ada pada hidup kita. Karena Allahlah sang sutradara kehidupan yang kita miliki, maka ketika kita melakukan shalat itu artinya kita tengah memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah.

Dan jika kita ingin memperbaiki sisi kehidupan kita, maka mulailah dari kita menjaga shalat terlebih dahulu. Karena saat kita perbaiki jadwal shalat kita kepada Allah, maka Allah akan senantiasa mengatur jadwal hidup kita.

Ketika Kamu Menjaga Shalatmu, Kamu Tengah Menjaga Apapun Yang Berkenaan Dengan Hidupmu

Karena ketika kita terbiasa menjaga shalat, berarti kita tengah menjaga apa-apa yang telah berkenaan dalam hidup yang kita miliki. Shalat adalah hal utama untuk mendapat ketentraman hidup, karena saat kita sudah senantiasa menjaga shalat kita kepada Allah, maka Allah pula akan menjaga kebahagiaan yang hadir dalam hidup kita.

Tetapi kok masih Banyak orang yang sudah shalat tetapi tidak mempunyai ketenangan hidup? Itu terjadi karena kita kurang berserah diri kepada Allah, karena shalat bukan hanya sekedar mengerjakan kewajiban semata. Yang namanya menjaga, adalah kita selalu berpasrah penuh kepada Allah, tidak melupakannya ataupun mengabaikannya.

Didalam shalat kita dituntut untuk khusyu’, dalam artian ketika sedang melakukan shalat kita harusnya hanya memikirkan Allah, bukan yang lainnya. Jadi saat orang menanyakan ketenangan hidupmu, dan mengaitkannya dengan shalatmu, maka yang harus kamu lakukan adalah introspeksi diri.

Sudah benarkah shalatku, sudah khusyu’kah shalatku dan sudah berpasrah penuhkah aku dalam shalatku, kata-kata seperti harus senantiasa kita tanamkan agar dalam mengerjakan shalat kita tidak hanya sekedar menunaikan ibadah.

Ketika Kamu Kehilangan Shalatmu, Maka Kamu Akan Kehilangan Yang Berkenaan Dalam Hidupmu

Dan ingatlah, ketika kamu berani meninggalkan shalatmu, maka kamu akan kehilangan apa-apa yang akan kamu miliki. Oh iya, benarkah…lalu bagaimana dengan seseorang yang memang tidak mengerjakan shalat tetapi ia terpenuhi segala sesuatu yang menjadi kebutuhan hidupnya?

Tapi pernahkah kamu menanyakan kepadanya apakah mereka bahagia denagn hidup yang dimilikinya? Tentu tidak bukan, kita hanya melihat dengan kasat mata bagaimana kehidupan mereka. Kita hanya tahu mereka bahagia saat mereka tertawa dan mempunyai fasilitas lengkap dalam hidupnya. Kita tidak tahu siksa batin apa yang sebenarnya melanda hidupnya.

Jika kamu menanyakan tentang kebahagiaan atas apa yang dimilikinya, walaupun tanpa shalat. Maka jawabannya adalah, Allah begitu murah kepada hamba-hambanya, sebab itulah Ia tidak membedakan rezeki yang Ia berikan kepada siapapun. Walaupun kamu terus-terusan berdosa kepada-Nya, Allah masih menyayangi kita sebagai hambanya, lalu tidakkah kita merasa bersyukur dan terus meminta perlindungan dengan terus melakukan shalat?

Iya, Allah hanya meminta kita untuk mengingatnya dalam shalat lima waktu. Dan itu pula hanya untuk membuat kita sadar bahwa Allah punya segalanya termasuk apa yang kita miliki saat ini. Dan jika ingin mendapat sesuatu yang lebih dari apa yang telah kita miliki saat ini adalah, kita harus senantiasa menjaga shalat yang kita miliki, jangan pernah kita berfikir untuk meninggalkannya, karena saat kita selalu menginagat Allah maka Ia pula akan selalu mengingat kita

Sesibuk Apapun Dirimu, Jangan Sampai Kamu Tinggalkan Shalatmu, Jika Tidak Kamu Akan Menyesal

Walau sesibuk apapun dirimu, setenar apapun hidupmu, dan sedisiplan apapun waktu yang kau miliki dalam bekerja maka jangan pernah sekali-kali kamu tinggalkan shalatmu, karena jika tidak kamu akan menyesal kelak dikemudian hari.

Benar, gajimu berapa hingga kamu mau meninggalkan shalatmu?, ingat sebanyak apapun gaji yang kamu dapatkan, dan sebanyak apapun harta yang kamu miliki takkan bisa membeli satu-satunya yang paling berharga dalam hidupmu, yaitu “nyawa”. Maka pergunakanlah masa hidupmu untuk selalu mengingat Allah agar hidup yang kamu miliki bermakna.

Jadikanlah Shalatmu Sebuah Kebutuhan, Bukan Hanya Sekedar Menunaikan Kewajiban

Jadikanlah shalatmu kepada Allah bukan hanya sekedar menunaikan kewajiban semata, tapi jadikanlah shalatmu adalah sebuah kebutuhan yang memang benar-benar akan membuatmu tenang dalam menjalankan masa-masa hidupmu ketika didunia. Jadikanlah shalatmu sebagai pengendali segala sesuatu yang akan hadir dalam inci demi inci kehidupanmu.

Shalat Itu Pangkal Dari Amal Ibadah Yang Lainnya, Jika Shalatmu Terjaga Maka Ibadah Yang Lain Juga Akan Terjaga

Shalat adalah pangkal dari amal ibadah yang lainnya, jika shalatmu kamu jaga dengan baik maka ibadah yang lain akan juga terjaga sempurn. Tetapi ada sebagian orang yang mempermasalahkan sikap dan perilakunya belum juga terjaga, padahal ia sudah melakukan shalat.

Hey, ingat ya sekedar shalat dan menjaga shalat itu berbeda, jika orang mengerjakan shalat tapi sikap dan perilakunya masih amburadul, itu bukan karena shalatnya, tapi tanyakan pada orangnya apakah ketika shalat ia sudah hadirkan Allah dalam shalatnya?

Karena seseorang yang benar-benar menjaga keadaan shalatnya, maka Allah akan selalu menjaga keadaan hidupnya tanpa terkecuali. Maka jagalah shalatmu agar Allah senantiasa menjaga segala sesuatu yang hadir dalam hidupmu.