Rabu, 04 Oktober 2017

Falsafah Hidup Rasulullah

   








        Segala puji serta syukur kepada Allah SWT ,seindah-indahnya perkataan ataupun pembicaraan di awali dengan pujian dan pengagungan kepada Sang Maha Pencipta. Berbicara tentang keagungannya, kegagahannya, dan keindahannya yang tak tertandingi dari siapapun. Shalawat serta salam  terucapkan penuh dengan khidmat dan rindu pada Baginda Alam Nabi Besar Muhammad SAW beserta para keluarganya,sahabatnya,dan kita selaku umat yang selalu merindukan perjumpaan dengan beliau baik secara dzahir ataupun batin. 

       Dalam kesempatan ini,akan ditulis beberapa pokok penting dalam di kehidupan Rasululah SAW.Sempat merenung sejenak setelah sedikit demi sedikit mengetahui sejarah nya Rasulullah SAW. Dalam renungan itupun muncul beberapa pertanyaan, bagaimana Rasulullah SAW begitu kokoh akidah dalam dakwahnya ditengah keadaan bangsa Arab yang masih jauh dari kebenaran? Begitu tenang dalam menghadapi ummat nya yang hanya bisa menolak dan mencaci maki beliau? Dan begitu semangat nya beliau dalam beribadah, padahal tapak jejaknya Rasulullah SAW sudah ada di syurga sana? Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya mengajak kepada para pembaca untuk saling mentadaburi sejarah perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah yang agung ini.

      Dari tiga pertanyan tersebut yang mengarah nya yakni pada cara hidup nya Rasulullah SAW. Ternyata Rasulullah SAW mempunyai tiga falsafah hidup yang ia tentukan dan dipegang erat falsafah hidupnya tersebut. Mengapa saya ingin mengajak mentadaburi bersama-sama, karena ini hanya lah yang saya tahu dan sedikit sekali yang saya dapat dari begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil.

       Falsafah hidupnya Rasulullah SAW yang pertama, Nabi mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara maka pandangan Rasulullah SAW kepada dunia itu seperti halnya tempat persinggahan. Dimana ada tempat singgah maka ada tempat terakhir yang harus dituju. Perumpamaan nya seorang musafir yang meneduh di pohon beringin besar ditengah perjalanan nya yang begitu melelahkan dan cuaca yang panas pula. Atau ketika kita mudik ke kampung halaman pun dalam perjalanan jauh itu kita selalu mampir ke tempat peristirahatan seperti rest area, terminal, stasiun, atau masjid. Apa bukti kalau memang dunia itu tempat persinggahan dilatarbelakangi waktu yang sementara ?  Terkadang kita merasakan senang tiba-tiba sedih, terkadang pula kita sakit dan merasakan hidup sehat, kejayaan dengan kemunduran, kekayaan dengan kemiskinan, semua itu membuktikan bahwa keadaan yang tidak menetap itu sementara hukumnya. Yang disesalkan oleh saya pribadi karena saya terlalu tergiur dengan kefanaan , selalu meremehkan potensi yang diberikan oleh Allah itu untuk dipergunakan sebaik-baik munkgin dalam koridor ajaran-ajaranNya berdampak hidup saya yang kurang bersyukur.Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan keluarga saya , dijauhi dari sifat kufur yang dibenci oleh Allah SWT.

      Falsafah hidup yang kedua, Rasulullah SAW meyakini bahwa ada sebuah kehidupan yang memang kita hidup di kehidupan tersebut yang bersifat kekal seperti yang sudah di paparkan sebelumnya. Tempat yang kekal dan kehidupan sebenar-benarnya ialah akhirat. Rasulullah begitu yakin sekali kita semua akan berada di alam sana. Hanya , pintar nya Rasulullah SAW yaitu menjadikan kehidupan dunia itu sebagai ajang pembekalan yang akan nanti dibawa ke kehidupan abadi. Disana kita akan berjumpa pada zat Yang Maha Suci dan bertemu sosok yang tergambar dari hasil prilaku dan usaha kita di kehidupan dunia. Segala perbuatan di kehidupan akhirat akan diminta pertanggung-jawabannya baik umurnya,hartanya,ilmunya dan amal-amalnya.

      Falsafah hidup yang ketiga, bahwasanya kebahagiaan Rasulullah SAW bukan terletak pada harta atau tahta. Kebahagiaan yang beliau lihat bukan secara lahiriyah melainkan dirasakan secara bathiniyah. Kebahagiaan yang beliau rasakan begitu dekat, selalu bersemayam ketenangan di dalam kehidupan nya. Kebahagiaan menurut kita di zaman sekarang itu karena harta melimpah ruah, tahta tinggi yang ingin dikuasai. Tapi kita lupa dan terlena dari semua itu, yang sebenarnya Islam mengajarkan untuk bahagia bersama Tuhan bukan senang bersama makhluk Tuhan. Maka letak kebahagiaan Rasulullah SAW yang membuahkan pada ketenangan,ketentramannya yaitu ketakwaan dalam diri dan keimanan dalam hati.










EmoticonEmoticon