Sabtu, 31 Maret 2018

Membangun Rasa Mencintai versi Syar'i




Membangun Rasa Mencintai versi Syar’i

   
  Berbicara mengenai cinta, semua orang pasti pernah merasakannya tidak mungkin ada orang yang tidak pernah merasakan apa itu cinta.Bisa dirasa tetapi tidak terlihat oleh mata.Mampu mebuat orang terlena oleh rasa cinta sehingga hati dan akal pun menjadi buta.Lantas, apakah cinta itu dilarang oleh agama karena bisa membuatakan hati dan akal? Jika tidak,mengapa banyak para pemuda pemudi yang jatuh pada kehinaan martabatnya karena alasan cinta, yang mana akan berakhir pada penderitaan hati,penyesalan jiwa, dan biasa nya pelampiasan semata ? Jika kita menilai bahwa cinta itu salah, mengapa Tuhan menciptakan hati?Sedangkan menurut Stephen Covey juga manusia itu memiliki rasa ingin dicintai ? Nah, dari beberapa pertanyaan tersebut ternyata ada beberapa tahapan mencintai, hal ini saya ambil hikmah dari kisah-kasih perjuangan cinta salah seorang sahabat saya sewaktu di Aliyah.

     Pertama, berawal dari rasa kagum secara umum.Tahap ini belum bisa dikatakan mencintai atau mempunyai rasa cinta.Bisa saja rasa kagum itu karena sesuai dengan pandangan umum orang lain yang menilai orang itu baik, tidak semua rasa kagum itu menjadi cinta.Karena di sesuaikan dengan apa yang kita senangi atau harapkan seperti, perkataan nya yang sopan, perbuatan nya yang menyejukan, atau bahkan kekonyolan nya yang sering dirindukan.Yang jelas tahap awal ini belum bisa dikatakan mencintai, karena tidak semua rasa kagum berujung pada jatuh cinta jikalau hanya ada salah satu dari beberapa orang yang berbeda.

Kedua, kecendrungan pada salah satu atas dasar kekaguman.Dalam arti dari beberapa orang yang kita perhatikan dan kita kagumi, ada salah satu orang yang berbeda dari yang lain.Pada tahap ini mulai sedikit demi sedikit hati yang berbicara dan akal pun selalu bertanya-tanya.Ingin lebih tau tentang dia melalui meminta cerita dari teman dekatnya atau mendapat kabar dari orang-orang terdekatnya, ingin sekali bertemu dan berharap di ajak ngobrol,diberi kabar dari nya, dan sebagainya.Pada tahap ini mulai membingungkan, karena akal kita berperan dalam merasakan hal ini apa dan mengapa yang mebuat keadaan jiwa seperti ini?Ketika akal kita sudah memahami betul mengapa dan apa sebab nya dari semua yang dirasakan ini  ternyata sosok seperti dia yang saya harapkan,tahap selanjutnya adalah keputusan.Dengan di awali mengakui atau kesadaran diri sendiri bahwa saya mencintai dia bukan menilai dari paras luar tapi poros akal dan hati yang menilai.

Ketiga, mengambil keputusan untuk mencintai.Tahap keseriusan yang membutuhkan saling keterbukaan dengan dia dan keluarga nya.Dari beberapa kisah yang pernah saya dengar dari teman-teman, terkadang anak nya mendukung untuk memulai pada keseriusan tapi tidak dengan kedua orang tuanya ataupun sebaliknya.Disini baru dibutuhkan perjuangan dan keyakinan kuat untuk mewujudkannya.Jika membahas tahap ini seperti tidak akan cukup tiga atau empat lembar kayaknya, yang nama nya untuk meyakinkan dia dan orang tua nya itu tidak mudah seperti membalikan badan ke belakang.Mendengar dari cerita sahabat ku ini  ,perjuangan nya bukan main.Tidak melihat jarak dan waktu berproses nya.Dan patut di kagumi.Hehehe

Keempat, hasil dari kesinambungan tahapan sebelumnya adalah mengabadikan cinta.Mengikat dua niat orang yang saling tulus dan siap mengarungi bahtera kehidupan baru itu dengan pernikahan.Niatkan diri untuk mengajak dia bersama-sama mengharap ridha Allah SWT melalui aturan Allah juga.Jika di awali dengan niat yang tulus ingin menjemput cahaya kebahagaiaan maka Allah akan memberikan cahaya kebahagiaan dan keberkahan.

     Dari tahapan di atas merupakan sedikit renungan yang saya dapatkan dari sekian banyak nya peristiwa atau kisah kasih kehidupan.


Pejuang Sakinah Mawaddah Warrahmah.
wkwkwkwkwk..............






EmoticonEmoticon