Membangun Rasa Mencintai versi Syar’i
Berbicara mengenai cinta, semua orang
pasti pernah merasakannya tidak mungkin ada orang yang tidak pernah merasakan
apa itu cinta.Bisa dirasa tetapi tidak terlihat oleh mata.Mampu mebuat orang
terlena oleh rasa cinta sehingga hati dan akal pun menjadi buta.Lantas, apakah
cinta itu dilarang oleh agama karena bisa membuatakan hati dan akal? Jika
tidak,mengapa banyak para pemuda pemudi yang jatuh pada kehinaan martabatnya karena
alasan cinta, yang mana akan berakhir pada penderitaan hati,penyesalan jiwa,
dan biasa nya pelampiasan semata ? Jika kita menilai bahwa cinta itu salah,
mengapa Tuhan menciptakan hati?Sedangkan menurut Stephen Covey juga manusia itu
memiliki rasa ingin dicintai ? Nah, dari beberapa pertanyaan tersebut ternyata
ada beberapa tahapan mencintai, hal ini saya ambil hikmah dari kisah-kasih
perjuangan cinta salah seorang sahabat saya sewaktu di Aliyah.
Pertama, berawal dari rasa kagum secara umum.Tahap ini belum bisa dikatakan
mencintai atau mempunyai rasa cinta.Bisa saja rasa kagum itu karena sesuai
dengan pandangan umum orang lain yang menilai orang itu baik, tidak semua rasa
kagum itu menjadi cinta.Karena di sesuaikan dengan apa yang kita senangi atau
harapkan seperti, perkataan nya yang sopan, perbuatan nya yang menyejukan, atau
bahkan kekonyolan nya yang sering dirindukan.Yang jelas tahap awal ini belum
bisa dikatakan mencintai, karena tidak semua rasa kagum berujung pada jatuh
cinta jikalau hanya ada salah satu dari beberapa orang yang berbeda.
Kedua, kecendrungan pada salah satu atas dasar kekaguman.Dalam arti dari
beberapa orang yang kita perhatikan dan kita kagumi, ada salah satu orang yang
berbeda dari yang lain.Pada tahap ini mulai sedikit demi sedikit hati yang
berbicara dan akal pun selalu bertanya-tanya.Ingin lebih tau tentang dia
melalui meminta cerita dari teman dekatnya atau mendapat kabar dari orang-orang
terdekatnya, ingin sekali bertemu dan berharap di ajak ngobrol,diberi kabar
dari nya, dan sebagainya.Pada tahap ini mulai membingungkan, karena akal kita
berperan dalam merasakan hal ini apa dan mengapa yang mebuat keadaan jiwa
seperti ini?Keti ka akal kita sudah memahami betul mengapa dan apa sebab nya
dari semua yang dirasakan ini ternyata
sosok seperti dia yang saya harapkan,tahap selanjutnya adalah keputusan.Dengan
di awali mengakui atau kesadaran diri sendiri bahwa saya mencintai dia bukan
menilai dari paras luar tapi poros akal dan hati yang menilai.
Ketiga, mengambil keputusan untuk mencintai.Tahap keseriusan yang
membutuhkan saling keterbukaan dengan dia dan keluarga nya.Dari beberapa kisah
yang pernah saya dengar dari teman-teman, terkadang anak nya mendukung untuk
memulai pada keseriusan tapi tidak dengan kedua orang tuanya ataupun
sebaliknya.Disini baru dibutuhkan perjuangan dan keyakinan kuat untuk
mewujudkannya.Jika membahas tahap ini seperti tidak akan cukup tiga atau empat
lembar kayaknya, yang nama nya untuk meyakinkan dia dan orang tua nya itu tidak
mudah seperti membalikan badan ke belakang.Mendengar dari cerita sahabat ku
ini ,perjuangan nya bukan main.Tidak
melihat jarak dan waktu berproses nya.Dan patut di kagumi.Hehehe
Keempat, hasil dari kesinambungan tahapan sebelumnya adalah mengabadikan
cinta.Mengikat dua niat orang yang saling tulus dan siap mengarungi bahtera
kehidupan baru itu dengan pernikahan.Niatkan diri untuk mengajak dia
bersama-sama mengharap ridha Allah SWT melalui aturan Allah juga.Jika di awali
dengan niat yang tulus ingin menjemput cahaya kebahagaiaan maka Allah akan
memberikan cahaya kebahagiaan dan keberkahan.
Dari
tahapan di atas merupakan sedikit renungan yang saya dapatkan dari sekian
banyak nya peristiwa atau kisah kasih kehidupan.
Pejuang Sakinah Mawaddah Warrahmah.
wkwkwkwkwk..............

EmoticonEmoticon