Waktu itu aku masih sekolah menengah
atas kelas
tiga semester satu . Tepat nya di daerah Cariu – Bogor. Aku bertemu seorang yang bernama
pak Ajay Sunjaya, beliau seorang yang sangat baik, bekerja sebagai tenaga
pengajar di salah satu sekolah menengah pertama beliau juga seorang pengusaha
dan pembisnis, aku dan beliau sering berpergian bersama karena hobi dan kegemaran
kita sama membuat beliau merasa nyaman aku sebagai patnernya.
Aku
sering main kerumah beliau atas panggilan nya, untuk sekedar
ngobrol-ngobrol dan makan bersama. Beliau sering bercerita tentang kegagalan nya di setiap memancing
ikan, aku sering takhenti tertawa saat beliau bercerita, karena
ada saja kejadian yang buat beliau terhambat dalam memancing yang sangat lucu. Setelah
beberapa kali kerumah nya beliau memperkenalkan putrinya itu, yang bernama
Maudi meilani dia perempuan yang cantik juga pandai memasak. Setiap
aku kerumah beliau selalu dia yang memasak untuk kami semua. Waktu terus
berlalu membuat diriku tak sadar, aku seakan jadi bagian dari keluarganya
karena hampir setiap hari aku berada di rumah nya. Waktu itu aku tidak punya
rasa ketertarikan terhadap nya karena rentan umur kita berdua yang lumayan jauh berbeda.
Saat
aku tidak berada di rumah nya, orang tua Maudi mengirim pesan singkat kepadaku, yang berisi keluh kesah nya tentang
siapa orang yang akan meneruskan bisnis dan usaha nya itu kelak, dia bingung
harus mencari kemana lagi sedangkan anak beliau itu perempuan. Pada
keesokan hari nya aku kerumah beliau dan membicarakan persoalan tersebut supaya
beliau sedikit tenang.
Dan
pada suatu ketika entah di sengaja atau pun tidak di sengaja orang tua maudi
sangatlah sulit untuk aku ajak ngobrol bersama lagi, setiap kali aku temui
beliau selalu menghindar dan setiap kali aku berbicara selalu mengalihkan
pembicaraan, beliau lebih sering menyarankan aku untuk bercakap-cakap dengan Maudi
putrinya itu, beliau seperti mengarahkan aku untuk selalu menyempatkan waktu untuk berbicara dengan Maudi.
Setelah begitu sering aku bertemu dengan Maudi
mulai lah muncul rasa ketertarikan antara kami berdua, hari-hari kami lewati
bersama dengan begitu bahagianya. Rasa ini terus aku tanamkan dalam diri ini
dan terus aku sampaiakn lewat perhatian-perhatian yang aku berikan kepadanya. Dan pada suatu
ketika aku pun merasa takut
akan kehilangn dirinya, maka terucap lah ikrar janji yang kami sepakati bersama. Aku
memutuskan untuk menjalin asmara dengan nya.
Waktu itu aku sangat
bahagia sekali karena dia yang aku sayangi menerima cintaku ini , setiap pulang
sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk bisa bertemu dengan Maudi karena rasa rindu ini terus saja mendorong aku
untuk bisa bercakap-cakap dan bercanda tawa
dengannya. Sering nya aku ke rumah maudi membuat ayah nya menyadari bahwa aku mempunyai hubungan dengan putrinya itu.
Lima bulan aku
menjalin hubungan dengan Maudi, dia termasuk orang yang sangat aku sayangi, tapi
dua bulan berikut nya adalah masa-masa dimana konflik mulai muncul. Sikap
Maudi mulai berubah semakin hari semakin tidak menentu membuat aku selalu terpancing
akan amarah yang terus aku lontarkan kepada nya, untuk bisa bertemu saja sangatlah susah. Dan di saat bisa
bertemu pun Maudi selalu sengaja mendiamkan aku di ruang tamu atau di pinggir rumah nya itu, dia sendiri
malah sering mengurung diri di kamar.
Hal seperti ini sering Maudi lakukan
kepada ku,membuat aku penasaran dengan apa yang di lakukan Maudi di kamar nya
itu, suatu ketika aku mengintip apa yang di lakukan Maudi di kamar nya itu, aku
melihat Maudi sedang asyik dengan Handpone nya itu sambil tersenyum sendiri membuat aku
semakin penasaran. Aku langsung berpura-pura mau pulang tapi aku tidak pulang aku
mengintip di jendela kamar Maudi dan mendengarkan percakapan nya dengan
seseorang karena pada saat itu ada yang sedang menelpon Maudi.
Ternyata orang yang menelpon Maudi itu seorang laki-laki yang entah
tau siapa tapi dari pembicaraan nya dia seperti sudah kenal lama dan seperti
orang yang memiliki hubungan yang spesial dengan nya. Aku masih
bertoleransi kepada Maudi mungkin itu teman sekelas nya saja yang menelpon menanyakan mata
pelajaran di sekolah.
Semakin kesini sikap
Maudi sekain membuat aku tidak nyaman karena kelakuan nya itu, waktu itu aku di
rumah Maudi. Saat dia sedang keluar rumah dan Handpone nya sedang di cas, Aku diam-diam melihat
percakapan sms nya dan segala social media yang dia gunakan, setelah aku lihat
semuanya sungguh sesuatu hal yang sangat mengecewakan kecurigaan-kecurigaan aku
selama ini terjawab sudah, ternyata dia menghianati ku, tanpa sepengetahuan ku dia sudah berpaling
akan cinta nya yang dia berikan kepada ku.
Waktu itu aku
langsung pulang, dan berpamitan pada keluarga Maudi, air mata ini sudah di ujung
bibir mata tapi masih aku tahan, di perjalanan pulang hujan deras pun mulai
turun tapi aku terus melanjutkan perjalanan, rasa sedih ini terus saja
menyelimuti ku, air hujan yang turun dari langit dan air mata ini yang tak
henti-henti nya bercucuran menjadi satu dan menjadi bukti akan hati yang di
hianati.
Tiga hari telah berlalu
tapi bayang-bayang akan peristiwa itu masih saja lekat di memori ingatan ini, sikap
ku mulai berubah yang awal nya selalu tertawa kini jadi pendiam, pemurung dan
pemarah. Aku sering melamun hal-hal yang
di luar angan-anagn kewajaran, aku berharap andai waktu bisa ku putar ulang
kembali ke masa lalu pasti akan ku
perbaiki kesalahan-kesalahan ku tempo itu dan tidak akan ku jalin percintaan
ini, sehingga tidak akan ada hati yang tersakiti oleh cinta yang di rekayasa
seperti ini.
Di setiap pelamunan
ku, aku selalu memikirkan bagaimana caraanya agar Maudi bisa tertarik lagi pada
ku, aku beranggapan segala cara akan ku lakukan untuk hal ini,tapi itu sangat
tidak mungkin aku hanya manusia biasa yang lemah. Memang ini sudah
rencana tuhan yang tak bisa ku ubah.
Orang tua membiarkan
ku seperti ini anggapan mereka aku sudah dewasa sehingga perhatian mereka
berkurang dan mereka beranggapan diriku dapat menyelesaiakan segala bentuk
permasalahan, hakim pengadilan tentang cinta tidak ada di negri ini, bahkan
tuhan pun mentakdirkan ku seperti ini. Kemana lagi aku harus mengadu dan mencari kebenaran akan hal ini, jika
memang seperti itu, akan ku cari keadilan yang bertentangan dengan kekuasaan
mu.
Hubungan ku dengan Maudi
sudah tidak berjalan lagi, di penyesalan ku terhadap nya menghantar kan ku
untuk kuliah di Bandung, agar jauh dengan nya supaya bisa ku lupakan tentang
kenangan dan penghianatan nya terhadap diriku, disinilah aku mulai berproses
bagaimana caranya diriku yang seperti ini menjadi seperti yang mereka idamkan.
Aku
tidak sepenuhnya menyalahkan Maudi, karena aku juga menyadari akan rentan umur
yang berbeda jauh dan tingkat kedewasaan
di antara kita berdua. Mungkin dirikulah yang salah karena terlalu
menyayangi orang yang tidak mau untuk di sayangi. Dalam dunia akademis
perkuliahan, ku temukan nilai – nilai
yang tidak aku dapatkan selama ini, pertanyaan – pertanyaan yang selama ini aku
simpan di hati kecil ku terjawab sudah.
Sekarang aku lebih tenang dengan keseharian ku yang seperti ini, tanpa hadirnya
cinta yang belum saat nya tiba. Mungkin suatu saat nanti diriku akan lebih selektif dalam memilih
cinta, bukan cinta yang memilih diriku.
Itulah kisah diriku tentang
kesesatan percintaan yang aku alami sebelum mengenal cinta yang sebenarnya. Memang
cinta yang semu itu indah tapi tidak untuk bertahan lama,karena cinta yang di
rekayasa tersebut tidak di ridhoi Allah Swt dan justru di benci-Nya.
Marilah
kita mulai lembaran baru, tidak ada kata terlambat dalam memulai sesuatu, buanglah
perasaan kotor itu dan tinggalkanlah cinta semu yang anda jalani, buatlah hidup
anda bermakna tanpa cinta yang masih samar dan hanya rekayasa belaka.
EmoticonEmoticon