Minggu, 18 Maret 2018

ON!!


Bertunas dan terlahir kembali.




On!


Selamat malam, mungkin ketika kamu membaca catatan ini hari menjelang terik, atau mentari baru mengintip ufuk Timur tempatnya terbit, atau mega merah tengah merona di garis cakrawala, tapi aku ingin menyapa kalian dengan selamat malam. Karena ketika malam aku bercerita pada seluet diri walau hanyan pendar, saat gelap malam menyelimuti hari aku dapat melihat apa yang tidak terlihat karena tahta sang surya. Pada saat sinarnya menyilaukan aku tak dapat melihat indahnya bintang, berbeda dengan gelapnya malam dengan atau tanpa lengkungan sabit yang elok walau hanya biasan.
On! Sekarang mode diriku aku on-kan, on untuk kembali menemukan yang sempat hilang, on untuk kewajibanku pada-Nya, on untuk hak mereka yang ada padaku untuk dituntaskan, on kembali untuk setiap abjad yang akan menyusun rangkai kata kemudian menjelma kalimat yang memenuhi paragraf.
Aku ingin dirindu, aku ingin ada yang menunggu. Sejenak aku berpikir, layakkah aku untuk keinginan itu? Mana mungkin aku layak ketika aku tidak hidup dalam imaji mereka, dalam dunia mereka, dalam kebutuhan mereka, dan untuk sekarang aku ingin benar-benar hidup. Bagaimana aku akan hidup ketika aku sendiri hanya seonggok daging yang berjalan di atas bumi bernaung atmosfer nan biru dengan sapuan tipis awan yang berarak atau gelap dengan kelip permata nun jauh di alam raya. aku harus menghidupkan diri dengan daya hidup yang aku miliki, kini aku siap untuk menghidupkan diri sehingga aku benar-benar hidup dalam dunia sosial dan pribadi. Kurasa hanya dengan itu aku dirindu dan aku ditunggu. Mode ON aku aktifkan.
Hari ini aku aktifasi mode ON dari sebuah pertanyaan yang muncul di layar touch screen kecil dengan notifikasi setelan yang dikhususkan, “Kemana aja Det, kamu menghilang bagai ditelan bumi tanpa sedikitpun kabar.” Aku tahu itu bukan pertanyaan, aku balas dengan sebuah pernyataan, “Aku ditelan bumi saat kucoba menghentakan kaki ingin melejit jauh ke langit.” Apakah benar begitu adanya? Kurasa iya.
Dua pekan yang telah lalu aku terlibat dalam perumusan rencana untuk satu tahun mendatang. Banyak keinginan yang ingin aku wujudkan bersama mereka. Planing telah tersusun, gagasan muncul tak terbendung, konsep acara telah mengepung ruang diskusi yang ada dalam laci kecil di alam pikir. Apa daya ketika perangkatku mulai meminta haknya untuk berhenti, aku tahu dia kelelahan atas semua intruksi yang aku berikan.  Aku tidak tinggal diam, tapi aku sama sekali jauh dari kata maksimal. Jangankan merilisnya satu persatu, satu pun dari banyak planing tidak bisa aku sampaikan, semakin berkurang saja kontribusi yang bisa aku berikan.
Fakta diamnya aku tidak dapat disembunyikan, api aku belum menemukan cara untuk muncul kepermukaan. Setelah aku berpikir kenapa, ternyata aku masih terjebak dalam ruang isolasi yang berjeruji kalimat negatif yang aku hiraukan. Ok, baiklah. Aku tidak akan menyerah. Aku singkapkan semua belukar kata yang bernuansa negatif menjadi pupuk bagi tanah dimana aku ingin tumbuh. Aku rekontruksi semua kata dalam linguistic intelegent yang ada padaku, aku tanamkan satu benih kalimat yang berbunyi, “Change your word, you’ll change your world.” Akan aku mulai saat ini juga, akan aku awali dari diriku, akan aku gunakan apa yang dititipkan-Nya padaku. Aku siap untuk menjadi pribadi yang baru. Akan aku ubah perkataanku yang menyebutkan, “Aku merasa kurang dalam melakukan ini, ini, ini, dan ini.” Menjadi kalimat yang lebih cantik, “Aku akan mengoptimalkan ini, ini, ini, dan ini.”
Selain belukar kata negatif, aku juga harus membabat habis kanopi besar makna negatif seperti karbondioksida dalam menyikapi semua fenomena. Aku akan menyiangi kanopi yang tumbuh besar itu. Bukan, bukan dengan cara aku benar-benar mengakhiri pertumbuhannya, melainkan akan aku tumbuhkan lebih besar lagi, lebih lebat lagi pohon kehidupan berkanopi makna poitif yang akan berfotosintesis layaknya oksigen di udara. Ya, tidak ada satupun yang layak untuk melegitimasi kehidupan hanya dalam satu makna, tidak ada yang berhak. Hidup memiliki berbagai makna, kita akan tahu apa saja makna tersebut ketika kita mau melungkan sedikit waktu untuk lebih tahu.
Ketika aku seakan menghilang ditelan bumi saat harus mengalir di permukaan, saat aku menghentakan kaki karena ingin melejit jauh ke langit, tidak layak aku mengumpat, tidak pantas aku membenci, bukankah aku akan kembali bertunas? Aku akan berkecambah, kemudian perlahan tumbuh hingga pucuk tertinggiku menyentuh langit yang membiru, menyentuh langit dengan taburan kerlip yang bembisu.


jika ada yang bertanya kaukah yang pandai menulis itu? jawabannya bukan aku. tetapi jika ada yang bertanya kaukah yang akan belajar menulis itu? jawabannya itulah aku,,


EmoticonEmoticon