Selamat
malam, mungkin ketika kamu membaca catatan ini hari menjelang terik, atau mentari
baru mengintip ufuk Timur tempatnya terbit, atau mega merah tengah merona di
garis cakrawala, tapi aku ingin menyapa kalian dengan selamat malam. Karena ketika
malam aku bercerita pada seluet diri walau hanyan pendar, saat gelap malam
menyelimuti hari aku dapat melihat apa yang tidak terlihat karena tahta sang
surya. Pada saat sinarnya menyilaukan aku tak dapat melihat indahnya bintang,
berbeda dengan gelapnya malam dengan atau tanpa lengkungan sabit yang elok
walau hanya biasan.
On!
Sekarang mode diriku aku on-kan, on untuk kembali menemukan yang sempat hilang,
on untuk kewajibanku pada-Nya, on untuk hak mereka yang ada padaku untuk
dituntaskan, on kembali untuk setiap abjad yang akan menyusun rangkai kata
kemudian menjelma kalimat yang memenuhi paragraf.
Aku
ingin dirindu, aku ingin ada yang menunggu. Sejenak aku berpikir, layakkah aku
untuk keinginan itu? Mana mungkin aku layak ketika aku tidak hidup dalam imaji
mereka, dalam dunia mereka, dalam kebutuhan mereka, dan untuk sekarang aku
ingin benar-benar hidup. Bagaimana aku akan hidup ketika aku sendiri hanya
seonggok daging yang berjalan di atas bumi bernaung atmosfer nan biru dengan
sapuan tipis awan yang berarak atau gelap dengan kelip permata nun jauh di alam
raya. aku harus menghidupkan diri dengan daya hidup yang aku miliki, kini aku siap
untuk menghidupkan diri sehingga aku benar-benar hidup dalam dunia sosial dan
pribadi. Kurasa hanya dengan itu aku dirindu dan aku ditunggu. Mode ON aku
aktifkan.
Hari
ini aku aktifasi mode ON dari sebuah pertanyaan yang muncul di layar touch
screen kecil dengan notifikasi setelan yang dikhususkan, “Kemana aja Det, kamu
menghilang bagai ditelan bumi tanpa sedikitpun kabar.” Aku tahu itu bukan
pertanyaan, aku balas dengan sebuah pernyataan, “Aku ditelan bumi saat kucoba menghentakan
kaki ingin melejit jauh ke langit.” Apakah benar begitu adanya? Kurasa iya.
Dua
pekan yang telah lalu aku terlibat dalam perumusan rencana untuk satu tahun
mendatang. Banyak keinginan yang ingin aku wujudkan bersama mereka. Planing telah
tersusun, gagasan muncul tak terbendung, konsep acara telah mengepung ruang
diskusi yang ada dalam laci kecil di alam pikir. Apa daya ketika perangkatku
mulai meminta haknya untuk berhenti, aku tahu dia kelelahan atas semua intruksi
yang aku berikan. Aku tidak tinggal
diam, tapi aku sama sekali jauh dari kata maksimal. Jangankan merilisnya satu
persatu, satu pun dari banyak planing tidak bisa aku sampaikan, semakin
berkurang saja kontribusi yang bisa aku berikan.
Fakta
diamnya aku tidak dapat disembunyikan, api aku belum menemukan cara untuk
muncul kepermukaan. Setelah aku berpikir kenapa, ternyata aku masih terjebak
dalam ruang isolasi yang berjeruji kalimat negatif yang aku hiraukan. Ok,
baiklah. Aku tidak akan menyerah. Aku singkapkan semua belukar kata yang bernuansa
negatif menjadi pupuk bagi tanah dimana aku ingin tumbuh. Aku rekontruksi semua
kata dalam linguistic intelegent yang ada padaku, aku tanamkan satu benih
kalimat yang berbunyi, “Change your word, you’ll change your world.” Akan aku
mulai saat ini juga, akan aku awali dari diriku, akan aku gunakan apa yang
dititipkan-Nya padaku. Aku siap untuk menjadi pribadi yang baru. Akan aku ubah
perkataanku yang menyebutkan, “Aku merasa kurang dalam melakukan ini, ini, ini,
dan ini.” Menjadi kalimat yang lebih cantik, “Aku akan mengoptimalkan ini, ini,
ini, dan ini.”
Selain
belukar kata negatif, aku juga harus membabat habis kanopi besar makna negatif
seperti karbondioksida dalam menyikapi semua fenomena. Aku akan menyiangi
kanopi yang tumbuh besar itu. Bukan, bukan dengan cara aku benar-benar
mengakhiri pertumbuhannya, melainkan akan aku tumbuhkan lebih besar lagi, lebih
lebat lagi pohon kehidupan berkanopi makna poitif yang akan berfotosintesis
layaknya oksigen di udara. Ya, tidak ada satupun yang layak untuk melegitimasi
kehidupan hanya dalam satu makna, tidak ada yang berhak. Hidup memiliki
berbagai makna, kita akan tahu apa saja makna tersebut ketika kita mau
melungkan sedikit waktu untuk lebih tahu.
Ketika
aku seakan menghilang ditelan bumi saat harus mengalir di permukaan, saat aku
menghentakan kaki karena ingin melejit jauh ke langit, tidak layak aku
mengumpat, tidak pantas aku membenci, bukankah aku akan kembali bertunas? Aku akan
berkecambah, kemudian perlahan tumbuh hingga pucuk tertinggiku menyentuh langit
yang membiru, menyentuh langit dengan taburan kerlip yang bembisu.

EmoticonEmoticon