IRSYAD
PENDIDIKAN
Irfan
Rahmatullah
ABSTRAK
Pendidikan menjadi begitu penting,
apabila berbicara tentang kualitas pengembangan
manusia pada suatu negara, sebab suatu bangsa dapat dikatakan dengan
maju jika pendidikan di negara tersebut juga telah maju dan berkualitas tinggi.
Dengan kata lain suatu bangsa dapat maju jika pendidikannya maju dan
berkualitas atau mundur jika dunia pendidikan di negara tersebut berkualitas
buruk. Namun, sangatlah miris jika kita melihat kondisi pendidikan di indonesia
saat ini sangat rendah. Menurut surat Al – Mujadillah ayat 11 istinbath ayat
yang dapat saya ambil yaitu keutamaan orang – orang beriman dan berilmu
pengetahuan. Bimbingan
Konseling Pendidikan Islami adalah kegiatan atau proses bimbingan dan konseling
yang diberikan kepada individu agar kegiatan belajar atau pendidikannya
senantiasa selaras dengan tujuan pendidikan islami, yaitu menjadi insan kamil
sebagai sarana mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Konseling pendidikan
islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu mengatasi
segala hambatan dalam kegiatan belajar atau pendidikannya, dengan menyadari
enksistensinya sebagai makhluk Allah yang harus senantiasa mengikuti ketentuan
dan petunjuk Allah agar mejadi insan kamil, sebagai sarana mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat. Yang di dalamnya mencakup aspek tujuan, fungsi, asas – asas,
metode, subjek, dan objek.
Keyword/Kata Kunci :
Bimbingan, Konseling, Pendidikan
A. Pendahuluan
Dalam
ruang lingkup bimbingan dan konseling islam ada yang dikenal dengan istilah
irsyad yaitu bimbingan, konseling, penyuluhan, istisyfa dalam islam. Irsyad ini
merupakan proses internalisasi ajaran islam dalam lingkungan masyarakat baik
individu maupun kelompok. Ruang ringkup irsyad terbagi menjadi irsyad
keagaaman, irsyad pendidikan, irsyad sosial, irsyad karier dan irsyad keluarga.
Salah satu ruang lingkup yang akan dibahas oleh penulis yaitu mengenai ruang
lingkup irsyad pendidikan, dimana irsyad pendidikan merupakan proses bantuan
terhadap individu atau kelompok yang agar
mampu mengatasi segala hambatan dalam kegiatan belajar atau pendidikannya.
Dilihat
dari segi tersebut, sangatlah miris jika kita melihat kondisi pendidikan di
Indonesia saat ini. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan,
Penyebab
pertama burukya Kualitas
pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan nasionalnya.
Di sekolah siswa dituntut menguasai berbagai bidang keilmuan yang begitu
memberatkan mereka, menurut saya kurikulum di Indonesia terlalu padat, sebab
tidak akan mungkin siswa mampu menjejali dirinya dengan semua mata pelajaran
yang harus ia terima setiap hari di sekolah. Seorang siswa tentu memiliki suatu
ketertarikan pada bidang-bidang tertentu saja, tetapi otaknya dipaksakan untuk
dimasukkan semua bidang keilmuan.
Penyebab kedua, adalah mahalnya biaya pendidikan di
Indonesia. Permasalahan mengenai biaya pendidikan selalu mendapat peran dengan
porsi besar dalam menambah semakin buruknya kualitas pendidikan kita.
Pendidikan yang berkualitas baik harus menelan biaya yang tidak sedikit, hal
ini tak dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Masyarakat yang kurang
mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas baik atau bagus
terpaksa hanya mampu menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah yang sarana
dan prasarananya minim dan terbatas. Sehingga banyak siswa yang hanya mampu
mengenyam pendidikan sampai tingkat SD, SMP dan SMA/SMK, hal tersebut berdampak
kepada banyaknya pengangguran dimana – mana dan bagi siswa yang bersekolah
disekolah menengah kejuruan pun mereka belum tentu mendapat pekerjaan karena
terbatasnya lapangan pekerjaan.
Dengan
adanya guru BK dilingkungan sekolah, hal ini bisa diatasi dengan cara
melaksanakan bimbingan individu ataupun kelompok. Karena proses irsyad
pendidikan ini sangat diperlukan didunia pendidikan. Irsyad pendidikan dapat
meningkatkan minat, motivasi dan menumbuhkan potensi setiap individu dalam
lingkungan sekolah. Maka dari itu seorang pembimbing atau konselor perlu
memahami konsep dasar irsyad pendidikan unntuk mengoptimalisasi proses
pelayanan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
B. Istinbath Irsyad
Pendidikan
Qs. Al – Mujadilah : 11
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$#
(#þqãZtB#uä
#sÎ)
@Ï%
öNä3s9
(#qßs¡¡xÿs?
Îû
ħÎ=»yfyJø9$#
(#qßs|¡øù$$sù
Ëx|¡øÿt
ª!$#
öNä3s9
( #sÎ)ur
@Ï%
(#râà±S$#
(#râà±S$$sù
Æìsùöt
ª!$#
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
öNä3ZÏB
tûïÏ%©!$#ur
(#qè?ré&
zOù=Ïèø9$#
;M»y_uy
4 ª!$#ur
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
×Î7yz
ÇÊÊÈ
Hai
orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah,
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Hai
orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian,
"Berlapang-lapanglah) berluas-luaslah (dalam majelis") yaitu majelis
tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang
kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca
al-majlis dalam bentuk mufrad (maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi
kelapangan untuk kalian) di surga nanti. (Dan apabila dikatakan,
"Berdirilah kalian") untuk melakukan salat dan hal-hal lainnya yang
termasuk amal-amal kebaikan (maka berdirilah) menurut qiraat lainnya
kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya
(niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian)
karena ketaatannya dalam hal tersebut (dan) Dia meninggikan pula (orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat) di surga nanti. (Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kalian kerjakan). (Tafsir Jalalain).
Berdasarkan
ayat diatas, ayat tersebut sangat relevan dengan irsyad pendidikan. Karena
diayat ini Allah
Menganjurkan kita senantiasa mau bekerja keras dalam menuntut ilmu dan bekerja.
Allah juga berjanji akan menempatkan orang – orang yang beriman, berilmu, dan
beramal saleh sesuai dengan ilmunya pada derajat yang paling tinggi.
C. Iqtibas Irsyad Pendidikan
1.
Pengertian Irsyad Pendidikan
A.
Pengertian Bimbingan
Bimbingan
merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli.
Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli menjadi pelengkap satu
sama lain.
a. Abu
Ahmadi (1991:1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu
(peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri
secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi
hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik.
b. Prayitno
dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu,
baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat
mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan
kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
c. Bimo
Walgito (2010:7), Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan
kepada individu untuk menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan didalam
kehidupannya sehingga individu atau sekumpulan individu dapat mencapai
kesejahteraan hidupnya
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
bimbingan merupakan pemberian bantuan yang bersifat psikis yang dilakukan
secara terus menerus dan sistematis kepada individu, agar individu terseb``ut
sanggpup memecahkan masalah yang dihadapinya , memahami dirinya ,mengarahkan
dirinya, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik keluarga maupun
masyarakat.
B.
Pengertian
Konseling
Pengertian
konseling menurut pandangan para ahli yaitu :
a. Jones
(Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan
profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini
biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang
melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan
memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat
pilihan yang bermakna bagi dirinya.
b. Bimo
Walgito (1982:11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan
kepada individhu dalam memecahkan masalah kehidupanya dengan wawancara, dengan
cara yang sesuai dengan keadaan individhu yang dihadapinya unuk mencapai
hidupnya. dan menyetir (to steer).
c. Tohirin
(2007:22) mengutip pendapat mortensen (1964) yang menyatakan bahwa konseling
merupakan proses hubungan antar pribadi dimana orang yang satu membantu yang
lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya.
Dari devinisi diatas dapat
disimpulkan yaitu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara
konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami
suatu masalah (klien) yang berakhir pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh
klien.
C.
Pengertian
Pendidikan
Secara bahasa definisi pendidikan
adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang
sesuai prosedur pendidikan itu sendiri.
Kemudian kita berlanjut pada UU
tentang adanya pendidikan tersebut, Menurut UU No. 20 tahun 2003 pengertian Pendidikan adalah sebuah usaha yang
di lakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, membangun kepribadian,
pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Undang – undang inilah yang menjadi
dasar berdidirinya proses pendidikan yang ada di Negara Indonesia. Sedangkan
pengertian pendidikan menurut para ahli yaitu
a. Ki Hajar
Dewantara : “ Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup
tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan
sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya”.
b. Prof. Dr.
M.J Langeveld
:“Pendidikan ialah pemberian bimbingan
dan bantuan rohani bagi yang masih memerlukannya”.
c. Prof.
Zaharai Idris
seorang Ahli Epistimologi juga menyampaikan pendapatnya tentang pengertian
pendidikan ialah : “ Pendidikan ialah
serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si
anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka
memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya” .
d. H. Horne : “ Pendidikan adalah proses yang di lakukan terus menerus dari penyesuaian
yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan
mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam
sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia” .
e. Ahmad D.
Marimba : Beliau
juga berpendapat bahwa Pendidikan adalah ” bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terdapat perkembangan
jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama“.
f. John Dewey : “ Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang
fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia”
.
Dapat disimpulkan pengertian
bimbingan konseling pendidikan islami adalah kegiatan atau proses bimbingan dan
konseling yang diberikan kepada individu agar kegiatan belajar atau
pendidikannya senantiasa selaras dengan tujuan pendidikan islami, yaitu menjadi
insan kamil sebagai sarana mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Konseling
pendidkan islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu
mengatasi segala hambatan dalam kegiatan belajar atau pendidikannya, dengan
menyadari enksistensinya sebagai makhluk Allah yang harus senantiasa mengikuti
ketentuan dan petunjuk Allah agar mejadi insan kamil, sebagai sarana mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.
Tujuan
dan Fungsi Irsyad Pendidikan
A.
Tujuan Irsyad
Pendidikan
Tujuan pemberian layanan bimbingan
konseling adalah
1.
Dapat merencanakan kegiatan penyelesaian studi,
perkembangan karir, serta kehidupannya pada masa yang akan datang.
2.
Mengembangkan
seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3.
Menyesuaikan
diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan
kerjanya.
4.
Mengatasi
hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan
lingkungan pendidikan masyarakat, ataupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan – tujan tersebut,
mereka harus mendapatkan kesempatan untuk :
1.
Mengenal dan
memahami potensi, kekuatan serta tugas – tugasnya.
2.
Mengenal dan
memahami potensi – potensi yang ada dilingkungannya.
3.
Mengebal dan
menentukan tujuan, rencana hidupnya, serta rencana pencapaian tujuan tersebut.
4.
Memahami dan
mengatasi kesulitan – kesulitan sendiri.
5.
Menggunakan
kemampuannya untuk kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja, dan
maasyarakat.
6.
Menyesuaikan
diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.
7.
Mengembangkan
segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara tepat dan optimal.
Tujuan
bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik :
1.
Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar,
dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang
dialaminya.
2.
Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti
kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap
semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
3.
Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
4.
Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif,
seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan
mempersiapkan diri menghadapi ujian.
5.
Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan
perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan
tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan
berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan
wawasan yang lebih luas.
6.
Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek
karir adalah :
1.
Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian)
yang terkait dengan pekerjaan.
2.
Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi
karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
3.
Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau
bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna
bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
4.
Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai
pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang
menjadi cita-cita karirnya masa depan.
5.
Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan
cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut,
lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
6.
Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang
kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan
minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
7.
Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah
karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia
senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan
dengan karir keguruan tersebut.
8.
Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan
atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat
yang dimiliki.
Menurut Thompson dan Rudolpph, 1983,
bimbingan dan konseling bertujuan agar klien :
1.
Mengikuti
kemauan-kemauan/saran-saran konselor
2.
Mengadakan
perubahan tingkah laku secara positif
3.
Melakukan
pemecahan masalah
4.
Melakukan
pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran dan pengembangan pribadi
5.
Mengembangkan
penerimaan diri
6.
Memberikan
pengukuhan.
B.
Fungsi Irsyad Pendidikan
Fungsi
utama bimbingan konseling pendidikan adalah membantu murid dalam masalah –
masalah dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau
penemapatan, juga menjadi perantara dari dalam hubungannya dengan para guru
maupun tenaga administrasi
Menurut
(Prayitno dan Erman Amti 1999 : 197) berpendapat bahwa, fungsi bimbingan dan
konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat ataupun keuntungan – keuntungan
apa yang diperoleh melalui pelayanan tersebut sangat banyak dan dapat
dikelompokan menjadi limafungsi pokok, yaitu : (a) fungsi pemahaman (b) fungsi
pencegahan (c) fungsi pengentasan (d) fungsi pemeliharaan (e) fungsi
pengembangan.
Sedangkan fungsi
bimbingan menurut (W.S Winkel, 1991:85-86) adalah
a.
Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya
(potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).
Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi
dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara
dinamis dan konstruktif.
b.
Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan
upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin
terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.
Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara
menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
c.
Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor
senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang
memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/ Madrasah
lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi
atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara
sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai
tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini
adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah
pendapat (brain storming),home room, dan
karyawisata.
d.
Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan
kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi,
sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling,
dan remedial teaching.
e.
Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau
program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan
minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan
fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun
di luar lembaga pendidikan.
f.
Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para
pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru
untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,
minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang
memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam
memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi
Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan
pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
g.
Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan
lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
h.
Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam
berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan
intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola
berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat
mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
i.
Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada
konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi,
selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
j.
Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan
konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan
situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi
konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan
produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program
yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.
Berdasarkan pendapat para
ahli diatas dapat disim`pulkan bahwa fungsi bk pendidikan :
1.
Membantu siswa agar memahami potensi yang dimilikinya dan
lingkungannya.
2.
Membantu siswa mendapat program studi yang sesuai baginya.
3.
Senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin
terjadi dan berupaya untuk mencegahnya agar tidak dialami oleh konseli (klien).
4.
Membantu konseli yang telah mengalami masalah, baik`
menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.
3.
Asas – Asas Irsyad Pendidikan
Dalam penyelenggaraan pelayanan
bimbingan dan konseling kaidah-kaidah atau asas-asas bimbingan dan konseling yaitu
ketentuan yang harus ditetapkan dalam penyelenggaraan pelayanan itu. Asas-asas
yang yang dimaksudkan adalah asas
kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan,
kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan kasus dan tut
wuri handayani.
a.
Asas Kerahasiaan (confidential), yaitu asas yang menuntut
dirahasiakannya segenap data dan keterangan peserta didik (klien) yang
menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak
layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru pembimbing (konselor)
berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga
kerahasiaanya benar-benar terjamin,
b. Asas Kesukarelaan, yaitu asas yang menghendaki
adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/ menjalani
layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru Pembimbing (konselor)
berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.
c. Asas Keterbukaan, yaitu asas yang menghendaki
agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap
terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan keterangan tentang
dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar
yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor) berkewajiban
mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien) mau
terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan
tidak berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan
dan dan kekarelaan.
d. Asas Kegiatan, yaitu asas yang menghendaki agar
peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan dapat berpartisipasi aktif
di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru Pembimbing (konselor) perlu
mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif dalam setiap
layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.
e. Asas Kemandirian, yaitu asas yang menunjukkan pada
tujuan umum bimbingan dan konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai
sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi
individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya,
mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri. Guru
Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan
bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
f. Asas Kekinian, yaitu asas yang menghendaki
agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi
sekarang. Kondisi masa lampau dan masa
depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan dengan
apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.
g. Asas Kedinamisan, yaitu asas yang menghendaki agar isi
layanan terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) hendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h. Asas Keterpaduan, yaitu asas yang menghendaki
agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan
oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan
terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi dengan berbagai
pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting dan
harus dilaksanakan sebaik-baiknya.
i.
Asas Kenormatifan, yaitu asas yang menghendaki agar
segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada
norma-norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu
pengetahuan, dan kebiasaan – kebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh
lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus
dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati
dan mengamalkan norma-norma tersebut.
j.
Asas Keahlian, yaitu asas yang menghendaki
agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselnggarakan atas dasar
kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar ahli
dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus
terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan
dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan
konseling.
k. Asas Alih
Tangan Kasus; yaitu asas yang menghendaki
agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan
konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien)
kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing
(konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru
lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing
(konselor), dapat mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih
kompeten, baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun di luar sekolah.
l.
Asas Tut Wuri Handayani; yaitu asas yang menghendaki
agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan
suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan
memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya
kepada peserta didik (klien) untuk maju.
Adapun asas – asas bimbingan
konseling pendidikan menurut Aunur Rahim Faqih dapat dirumuskan sebagai berikut
:
1. Asas Kebahagiaan Dunia dan Akhirat; yaitu pencapaian kehidupan yang
bahagia didunia dan akhirat. Jelasnya, klien senantiasa ditingkatkan pada
hakekat bahwa kegiatan belajar/pendidikannya itu dalam rangka mencari
kebahagiaan dunia dan akhirat.
2. Asas Kewajiban Menuntut Ilmu; yaitu sudah jelas pada ajaran
islam bahwa belajar/menuntut ilmu itu merupakan suatu kewajiban bagi seorang
muslim.
3. Asas Pendidikan Seumur Hidup; yaitu menuntut ilmu merupakan
suatu kewajiban bagi setiap muslim, tanpa memandang usia, dan tiada waktu untuk
berhenti menuntut ilmu sampai akhir hayat.
4. Asas Manfaat Pendidikan; yaitu memberi kesadaran kepada
klien mengenai manfaat menuntut ilmu atau menempuh pendidikan.
5. Asas Multipengaruh Terhadap
Pendidikan;
yaitu memberikan kesadaran/pemahaman pada individu mengenai banyak faktor yang
mempengaruhi kegiatan belajar/pendidikan seseorang yaitu bakat, lingkungan dan
juga kemauan. Maka pembimbing maupun klien tidak akan mudah mengambil
kesimpulan mengenai sabab musabab terjadinya suatu kasus pendidikan hanya dari
satu sisi saja, melainkan akan melihatnya dari wawasan yang lebih luas/berbagai
sudut.
6. Asas Kesesuaian dengan Keadaan Diri; yaitu mengingatkan kepada klien
bahwa usaha belajar/pendidikan akan berhasil manakala yang bersangkutan
berusaha sesuai dengan kadar kemapuannya sendiri, ataupun kemampuan lainnya.
Agar orang yang belajar tidak membebani diri dengan kegiatan atau cita – cita
dan keinginan yang jauh dari kemampuan dirinya. Misalnya memilih jurusan yang
tidak sesuai dengan bakatnya dsb.
7. Asas Produktivitas; yaitu membantu individu untuk
berlaku efektif , efisien dan produktif. Jelasnya, individu senantiasa berusaha
memanfaatkan apa yang ada, apa yang tersedia dengan sebaik – baiknya, dan
berusaha mencapai hasil dengan daya dan upaya yang paling hemat dan tidak
menyianyiakan waktu dan daya.
4.
Subjek Irsyad Pendidikan
Sesuai
dengan asas pendidikan seumur hidup, maka subjek bimbingan konseling pendidikan
berarti semua orang yang melakukan kegiatan belajar atau pendidikan.Namun
demikian, lazimnya permasalahan – permasalahan lebih banyak muncul dilingkungan
pendidikan formal dan nonformal, walau tidak menutup mata bahwa dalam
lingkungan pendidikan informalpun permasalahan itu bisa muncul. Dengan kata
lain subjek bimbingan dan konseling pendidikan termasuk anak – anak dan
remaja/pemuda yang sedang menempuh pendidikan formal atau nonformal.
Jika dirinci, subjek bimbingan dan konseling
pendidikan itu terdiri dari :
1.
Peserta didik sekolah (sejak murid SD sampai
dengan mahasiswa perguruan tinggi
2.
Peserta
pendidikan nonformal
3.
Orang tua atau
wali murid yang mempunyai problem sehubungan dengan kegiatan belajar/
pendidikan anaknya.
4.
Orang tua
(ayah/ibu) dalam kaitannya dengan
pendidikan anak – anaknya (balita)
5.
Objek
Irsyad Pendidikan
Objek
garapan bimbingan dan konseling islami adalah problem – problem yang berkaitan
dengan :
1.
Efisiensi dan
efektivitas kegiatan belajar, yakni baaimana bisa berhasil menguasai apa yang
dipelajari/diajarkan dengan efisien; Tercakup dalam pengertian ini adalah
bagaimana cara belajar yang efektif, bagaimana cara mencegah terkena sanksi
dikeluarkan karena tidak memenuhi syarat penguasaan bahan pelajaran, bagaimana
menghadapi kebosanan dan keengganan belajar dan sebagainya.
2.
Ketetapan pemilihan bidang/jenis studi; jelasnya bagaimana
memilih bidang studi (jurusan) yang sesuai dengan bakat, kemampuan dsb.
3. Kelanjutan studi yakni yang
berkaitan dengan pemilihan melanjutkan studi ataukah tidak dan dalam bidang
apa; khususnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi
4. Penggunaan waktu luang dari kegiatan
belajar rutin terjadwal sekolah/lembaga pendidikan, termasuk memanfaatkan libur
secara efisien dan produktif
5.
Pengasuhan dan pendidikan anak balita dan pra sekolah
6.
Metode Irsyad Pendidikan
Metode dapat dikatakan suatu jalur atau cara yang harus
dilalui untuk pencapaian suatu tujuan. Metode bimbingan dan konseling Islam berbeda halnya dengan
metode dakwah. Sebagai kita ketahui metode dakwah meliputi : metode ceramah,
metode tanya jawab, metode debat, metode percakapan antar pribadi, metode
demonstrasi, metode dakwah Rasulullah SAW, pendidikan agama dan mengunjungi
rumah (silaturrahmi). Demikian pula bimbingan dan konseling Islam bila
dikalsifikasikan berdasarkan segi komunikasi, Pengelompokannya menjadi:
1. Metode lansung
2. Metode tidak lansung
Metode Lansung
Metode lansung adalah metode dimana pembimbing melakukan komunikasi
lansung (bertatap muka) dengan orang yang dibimbingnya. Metode ini dapat
dirinci lagi menjadi :
Metode Individual
Bimbingan
konseling individu yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan klien mendapat
layanan langsung tatap muka dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahan yang sifatnya pribadi yang dideritanya. Dalam konseling ini
hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya
menunjukkan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien.
Dan empati artinya berusaha menempatkann diri dalam situasi diri klien dengan
segala masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan sikap ini klien akan memberikan
kepercayaan sepenuhnya kepada konselor. Dan ini sangat membantu keberhasilan konseling.
Bentuk Khusus Teknik Konseling:
1. Konselor yang paling berperan
2. Konselor berusaha mengarahkan
konseli sesuai dengan masalahnya.
3. Berpusat pada konseli
4. Konselor hanya menampung
pembicaraan yang berperan konseli
5. Konseli bebas bicara, sedangkan konselor menampung dan
mengarahkan.
Pembimbing
dalam hal ini melakukan komunikasi langsung secara individual dengan pihak yang
dibimbingnya. (Rahim Faqih,2001:55) Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknik :
1. Percakapan pribadi, yakni pembimbing
melakukan dialog langsung tatap muka dengan pihak yang dibimbing.
2. Kunjungan ke rumah (home visit),
yakni pembimbing mengadakan dialog dengan kliennya tetapi dilaksanakan di rumah
klien sekaligus untuk mengamati keadaan rumah klien dan lingkungannya.
3. Kunjungan dan Observasi kerja, yakni
pembimbing/konseling jabatan, melakukan percakapan individual sekaligus
mengamati kerja klien dan lingkungannya.
Metode Kelompok
Pembimbing melakukan komunikasi lansung dengan klien dalam kelompok. Hal ini
dapat dilakukan dengan teknik-teknik:
1. Diskusi kelompok. Diskusi kelompok
merupakan suatu cara dimana murid-murid akan mendapat kesempatan untuk
memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran
masing-masing dalam memecahkan suatu masalah.
Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggung jawab dan harga diri.
Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggung jawab dan harga diri.
2. Karyawisata (field trip).
Karyawisata atau field trip selain berfungsi sebagai kegiatan rekreasi atau
metode mengajar, dapat pula berfungsi sebagai salah satu tehnik dalam bimbingan
kelompok. Dengan berkaryawisata murid mendapat kesempatan meninjau objek-objek
yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari objek itu.
Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian
dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa
tanggungjawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan
cita-cita yang ada. Dalam contoh seorang anak dapat kesempatan untuk
mengembangkan kesenangannya dan bakatnya dalam karyawisatanya. Ia dapat
menunjukkan kemampuannya kepada teman-temannya dan mengembalikan harga dirinya.
3. Sosiodrama. Sosiodrama dipergunakan
sebagai suatu tehnik didalam memecahkan masalah-masalah social dengan melalui
kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan
suatu peranan tertentu dari suatu masalah social. Dalam kesempatan itu individu
akan menghayati secara langsung situasi masalah yang dihadapinya. Dari
pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya.
4. Psikodrama. Jika sosiodrama
merupakan tehnik memecahkan masalah social, maka psikodrama adalah tehnik untuk
memecahkan masalah-masalah psychis yang dialami oleh individu. Dengan
memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya
dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu
cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psyshis yang dialami
individu. Kemudian murid-muri d diminta untuk memainkan dimuka kelas. Bagi
murid yang mengalami ketegangan, permainan dalam peranan itu dapat mengurangi
ketegangannya.
5. Remedial teaching. Remedial teaching
atau pengajaran remedial yaitu bentuk pengajaran yang diberikan seorang murid
untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya. Remedial ini mungkin
berbentuk bermacam-macam seperti penambahan pelajaran, pengulangan kembali,
latihan-latihan, penekanan aspek-aspek tertentu, tergantung dari jenis dan
tingkat kesulitan belajar yang dialami murid. Tehnik remedial ini dilakukan
setelah diadakan diagnose terhadap kesulitan yang dialami murid.
Metode Tidak Langsung
Metode
tidak langsung (metode komunikasi tidak langsung) adalah metode
bimbingan/konseling yang dilakukan melalui media komunikasi masa. Hal ini dapat
dilakukan secara individual maupun kelompok, bahkan massal.
a.
Metode Individual
Melalui
Surat Menyurat dan Melalui Telepon dsb
b.
Metode Kelompok/massal :
1. Melalui Papan Bimbingan
2. Melalui Surat Kabar / Majalah
3. Melalui Brosu
4. Melalui Radio (media audio)
5. Melalui Televisi
Menurut (Achmad. Juntika
Nurihsan, 2007:22) Metode
dan teknik mana yang dipergunakan dalam melaksanakan bimbingan atau konseling,
tergantung pada :
a.
Masalah/problem yang sedang dihadapi/digarap
b.
Tujuan penggarapan masalah
c.
Keadaan yang dibimbing/klien
d.
Kemampuan pembimbing/konselor memepergunakan metode/teknik
e.
Sarana dan Prasarana yang tersedia
f.
Kondisi dan situasi lingkungan sekitar
g.
Organisasi dan administrasi layanan bimbingan &
konseling
h.
Biaya yang tersedia
D.Penutup
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan
di indonesia harus dirubah karena tidak semua siswa itu belum tentu memiliki
minat, bakat dan keahlian yang sama, serta menekan biaya sekolah seminimal
mungkin agar semua yang berhak mendapatkan pendidikan dapat memperoleh
pendidikan yang baik tanpa adanya ketakutan akan putus di tengah jalan karena
ketiadaan biaya. Pendidikan adalah hak semua orang dan menjadi tanggung jawab
negara untuk menyelenggarakannya serta memfasilitasinya.
Bimbingan
Konseling Pendidikan Islami adalah kegiatan atau proses bimbingan dan konseling
yang diberikan kepada individu agar kegiatan belajar atau pendidikannya
senantiasa selaras dengan tujuan pendidikan islami, yaitu menjadi insan kamil
sebagai sarana mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Konseling pendidikan islami
adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu mengatasi segala
hambatan dalam kegiatan belajar atau pendidikannya, dengan menyadari
enksistensinya sebagai makhluk Allah yang harus senantiasa mengikuti ketentuan
dan petunjuk Allah agar mejadi insan kamil, sebagai sarana mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat. Juga diharapkan dengan adanya Irsyad Pendidikan ini dapat meningkatkan minat, motivasi dan
menumbuhkan potensi setiap individu dalam lingkungan sekola
DAFTAR PUSTAKA
M. Luddin , Abu bakar.
2010. Dasar – dasar bimbingan konseling
tinjauan teori dan praktik. Citapustaka Media Perintis, Bandung.
Satriah, Lilis. 2016. Panduan Bimbingan dan Konseling Pendidikan. CV Mimbar Pustaka, Bandung.
Dewa Ketut, Sukardi.
1988. Bimbingan dan Konseling. Bina Aksara, Jakarta
Willis,
Sofyan S. 2004,
Konseling Individual.
Alfabeta,
Bandung
Gantina Komalasari, Eka Wahyuni dkk. 2011. Teori dan
Teknik Konseling, Indeks, Jakarta Barat
hal. 271
Hallen A. 2002. Bimbingan dan Konseling. Ciputat Press,
Jakarta
Sudrajat, Akhmad. 2008.
Fungsi Prinsip dan Asas Bimbingan Konseling.
Prayitno. 2001. Panduan Kegiatan Bimbingan dan Konseling di
Sekolah. Rineka Cipta, Jakarta
W . S. Winkel. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Grasindo , Yogyakarta
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling. Andi Offset,
Yogyakarta
Faqih, Aunur Rahim.
2004. Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. UII Press, Yogyakarta.
Juntika, Ahmad. 2006.
Bimbingan dan Konseling. Aditama, Bandung
H.M. Arifin. 1994. Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
Agama. Jakarta : PT. Golden Terayon Press
Tohirin. 2007.
Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Prayitno dan Erman
Amti. 1999. Dasar – Dasar Bimbingan dan
Konseling. Rineka Cipta, Jakarta.
Achmad. Juntika Nurihsan. 2007. Bimbingan Dan Konseling. PT
Refika Aditama, Bandung.
EmoticonEmoticon